Pendiri Google, Larry Page, terlihat siap untuk mengatakan selamat tinggal pada negara bagian di mana dia mendirikan raksasa teknologinya dan sebagian besar kekayaannya.
Menurut dokumen yang dilihat Fortune, Page sedang memindahkan beberapa asetnya keluar dari California. Ini dilakukan setelah ada usulan pajak kekayaan yang akan mempengaruhi sekitar 200 miliader di California. Sementara beberapa miliader sudah mulai kabur dari ‘Negara Bagian Emas’ ini, yang lain seperti CEO Nvidia, Jensen Huang, kelihatan tidak terganggu. Dia bilang dia tidak peduli dengan pajak itu.
Koop, kantor keluarga Page, dipindahkan dari California dan didaftarkan di Delaware pada 23 Desember. Flu Lab LLC, perusahaan layanan tes kesehatan yang terkait dengan Page, dan juga One Aero, yang dilaporkan adalah perusahaan shell Page untuk mendanai proyek mobil terbang, juga dipindah ke Delaware. Lembaga nirlaba ilmu kelautan Oceankind, yang didirikan istri Page, Lucy Southworth, tahun 2018, juga didaftarkan di Delaware bulan lalu, padahal sebelumnya ada di California.
Aset-aset ini dipindahkan menjelang batas waktu efektif akhir tahun. Jika usulan pajak disetujui setelah pemilu November nanti, pajak akan berlaku surut mulai 1 Januari 2026 untuk penduduk California.
Pajak yang diusulkan mewajibkan penduduk California dengan kekayaan bersih lebih dari $1 miliar untuk membayar pajak satu kali sebesar 5% dari aset mereka. Pembayaran bisa dilakukan dalam lima tahun, dan 90%-nya akan dialokasikan untuk pengeluaran kesehatan.
Dengan perhitungan itu, Page, yang kekayaannya sekitar $270 miliar menurut Bloomberg Billionaire Index, akan berhutang pajak sekitar $13 miliar ke negara bagian jika usulan itu lolos.
Meski nasib usulan ini belum akan diputuskan pemilih selama berbulan-bulan, Page kelihatannya tidak mau ambil resiko. Seorang sumber anonim memberi tahu Business Insider bahwa sang pendiri Google itu sudah dilaporkan meninggalkan California. Business Insider juga yang pertama kali melaporkan perpindahan bisnis Page. The New York Times melaporkan bulan lalu bahwa Page, bersama miliader venture capitalist Peter Thiel, sedang pertimbangkan untuk meninggalkan California menjelang akhir 2025.
Fortune tidak dapat menghubungi Page untuk mendapatkan komentar.
Kaburnya Para Miliader dari California
Banyak pemimpin teknologi sudah menyatakan pendapat mereka tentang usulan pajak kekayaan California. Mereka berargumen bahwa inisiatif ini akan memperburuk tren orang-orang super kaya meninggalkan negara bagian itu ke tempat dengan pajak dan aturan lebih ringan, yang akhirnya membuat California kekurangan sumber daya. Garry Tan, CEO akselerator startup Y Combinator, memperingatkan bahwa pajak tambahan akan menakut-nakuti miliader di negara bagian itu, mengalirkan modal keluar dari California—dan pada akhirnya mengancam inovasi dan dukungan untuk layanan kesehatan yang justru ingin dibantu oleh pajak ini.
Memang, tingginya pungutan di California, termasuk pajak perusahaan, penjualan, dan waralaba, serta lingkungan regulasi yang ketat, sering dianggap sebagai alasan mengapa mantan penduduk Silicon Valley memindahkan operasi bisnis mereka ke negara bagian lain. Kepindahan Elon Musk dari California ke Texas yang bebas pajak penghasilan pada 2020—sekarang jadi markas Tesla, SpaceX, X, dan the Boring Company—mungkin sudah menghemat sekitar $18 miliar dalam pajak capital gains. Oracle, Hewlett Packard Enterprise, dan Charles Schwab adalah beberapa perusahaan besar lain yang pindah dari California ke ‘Negeri Bintang Tunggal’ itu. Delaware, tempat Page mendaftarkan beberapa entitasnya, tidak mewajibkan pemilik perusahaan LLC untuk membuka nama mereka ke publik.
Tapi tidak setiap miliader sangat menentang usulan ini. CEO Nvidia, Huang, orang terkaya kesembilan di dunia dengan kekayaan $155 miliar, kelihatan tidak terganggu.
“Saya bahkan tidak pernah memikirkannya sekali pun,” kata Huang kepada Bloomberg Television dalam wawancara hari Selasa. “Kami memilih tinggal di Silicon Valley, dan pajak apapun yang ingin mereka terapkan, biarkan saja. Saya baik-baik saja dengan itu.”
Bahkan, Nvidia kemungkinan justru memperbesar kehadirannya di Silicon Valley. Perusahaan itu dilaporkan sudah menyelesaikan sewa kantor pertamanya di San Francisco pada November 2025, menentang kekhawatiran tentang penjualan aset besar-besaran atau kehilangan talenta di California.
“Kami bekerja di Silicon Valley karena di sanalah kumpulan talentanya, dan kami punya kantor di seluruh dunia, di mana pun ada talenta,” ujar Huang.
Cerita ini pertama kali dimuat di Fortune.com