Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang makin panas bikin ekonomi global hadapi kondisi pasar yang tidak stabil lagi. Harga minyak melonjak, dan para investor lari ke aset aman seperti minyak dan emas (GCK26).
Di surat untuk pemegang sahamnya tahun 1979, Warren Buffett bilang bahwa meskipun pemerintah itu “hebat” dalam “mencetak uang dan membuat janji,” mereka pada dasarnya tidak bisa “mencetak emas atau menciptakan minyak.” Walaupun ditulis hampir lima dekade lalu, pandangan ini masih sangat relevan saat ketidakstabilan geopolitik membuat investor beralih ke aset material.
Saat serangan bom terus terjadi, investor banyak bergerak ke minyak, yang harganya naik karena pasokan terputus. Salah satu alasan naik turunnya pasar minyak sekarang adalah penutupan Selat Hormuz. Sejak awal Maret 2026, jalur air yang biasanya mengalirkan 20% minyak dunia setiap hari ini jadi tidak bisa dilewati kebanyakan kapal dagang setelah Iran ancam akan bakar kapal. Ancaman ini bikin lalu lintas kapal turun 80%.
Gangguan fisik ini langsung berpengaruh ke ekonomi. Harga futures minyak mentah naik 35% hanya dalam lima hari terakhir sementara pasokan sementara terhenti. Eskalasi konflik, yang dipicu aksi AS dan Israel terhadap Iran, memaksa investor sadar bahwa janji keamanan energi jadi tidak berarti saat infrastruktur pasokan fisik diserang. Tapi, sementara harga minyak naik, perusahaan minyak dapat lebih banyak pendapatan dan investor bisa berharap dapat return yang lebih tinggi.
Di surat 1979 itu, Buffett bandingkan nilai buku Berkshire Hathaway (BRK.A) (BRK.B) dengan harga emas. Dia catat bahwa setelah 15 tahun “kerja keras” dan menginvestasikan kembali semua laba, peningkatan nilai buku perusahaannya hanya bisa beli setengah ons emas yang sama seperti tahun 1964. Dia buat perbandingan serupa dengan minyak, tekankan bahwa walau uang bisa dicetak tanpa masalah sumber daya langsung, bahan material berharga itu terbatas dan langka.
Cerita Berlanjut
Walau Buffett terkenal hindari emas karena tidak menghasilkan arus kas, dia terapkan logika ini dengan agresif di sektor energi. Berkshire Hathaway punya saham besar di raksasa minyak seperti Chevron (CVX) dan Occidental Petroleum (OXY). Berkshire baru saja tingkatkan posisinya di Chevron, yang harganya naik hampir 20% sejak awal tahun karena konflik dorong harga.
Di masa perang, penting untuk diversifikasi investasi ke kelas aset yang aman. Investor sekarang tertarik ke emas dan minyak karena alasan yang berbeda tapi saling melengkapi. Emas performanya jauh lebih baik dari pasar secara umum dalam setahun terakhir. Emas bertindak sebagai aset “pelindung nilai,” menjaga daya beli ketika saham jatuh dan mata uang melemah karena inflasi dan ketidakpastian geopolitik.
Orang berinvestasi di minyak saat perang karena konflik bikin takut pasokan akan terganggu. Investor perkirakan bahwa kerusakan infrastruktur atau sanksi akan kurangi pasokan yang ada, sehingga harga komoditas dan saham energi melonjak.
Saat konflik meluas, kebutuhan untuk menjaga nilai modal makin besar. Pesan Buffett tahun 1979 jadi panduan untuk menghadapi ekonomi dalam perang, dan ingat bahwa aset yang tidak bisa dicetak begitu saja oleh pemerintah akan pertahankan nilainya dalam jangka panjang. Tapi, investor harus tetap hati-hati.
Walaupun emas dan minyak mungkin tawarkan perlindungan dari inflasi dan gejolak, diversifikasi tetaplah penting untuk kurangi risiko dari konflik yang berubah cepat. Selagi Selat Hormuz tetap jadi titik panas dan perang AS-Iran makin intens, nilai intrinsik dari apa yang ada di dalam tanah, bukan yang ada di mesin cetak, kemungkinan akan terus menentukan kepemimpinan pasar.
Pada tanggal publikasi, Oscar Cierpial tidak memiliki (baik langsung maupun tidak langsung) posisi di sekuritas mana pun yang disebut dalam artikel ini. Semua informasi dan data dalam artikel ini hanya untuk tujuan informasi. Artikel ini pertama kali diterbitkan di Barchart.com