Gaji CEO Naik 11% Tahun 2025, Pekerja Hanya Dapat 0,5%

Gaji CEO naik lagi di tahun 2025, dan kecepatan kenaikannya jauh tinggalkan pekerja biasa, kata laporan baru.

Pimpinan beberapa perusahan besar di dunia dapat kenaikan gaji 11% tahun lalu, sementara pekerja biasa di seluruh dunia cuma naik 0,5%—itu artinya gaji CEO tumbuh 20 kali lebih cepat dari pekerja biasa, menurut studi Jumat yang dirbitkan oleh International Trade Union Confederation dan Oxfam.

Laporan ini, yang liat 1.500 perusahan di 33 negara, nemuin bahwa gaji CEO rata-rata sekitar $8,4 juta tahun lalu, naik dari $5,5 juta di tahun 2019.

Tapi, contoh yang paling jelas dari gaji tinggi eksekutif mungkin adalah CEO Tesla, Elon Musk. Bulan November, pemegang saham setujui paket gaji untuk orang terkaya di dunia yang bisa kasih dia sampe $1 triliun dalam saham selama 10 tahun—kalau dia capai target tertentu, termasuk naikin kapitalis pasar Tesla ke $8,5 triliun (itu naik sekitar 585%). Paket gaji yang pecahkan rekor ini dinilai $158 miliar di tahun 2025, kata Wall Street Journal.

Para miliader juga lakukan sangat baik tahun lalu, karena pasar saham yang solid di 2025. S&P 500 naik sekitar 18% tahun lalu. Hampir 1.000 miliader yang portofolio investasinya teridentifikasi dapat $79 miliar di dividen tahun lalu, menurut laporan ini.

Meski gitu, studi ini bandingin gaji 1.500 CEO dari “perusahan dengan bayaran teratas” dengan upah semua pekerja dunia—seolah mereka gabungin dua kelompok yang kaga terkait. Perbandingan lebih adil adalah ukur gaji CEO dengan gaji pekerja di perusahan yang sama, kayak yang komentator tunjuk di forum Reddit Economics.

Kenaikan gaji CEO ini terjadi sementara upah pekerja biasa turun trus. Upah nyata global pekerja anjlok12% antara 2019 dengan 2025. Laporan mangklaim, karena penurunan ini, pekerja biasa telah kerjah 108 hari gratis sejak 2019.

MEMBACA  Outlook suram BoE menyoroti besarnya tantangan bagi Rachel Reeves

Selain upah turun, pekerja biasa juga hadapin inflasi yang naik drastis bebarapa taun ini. Inflasi inti naik 0,3% dan jadi 3,2% lebih tinggi di Maret ber tahun sebelumnya, menurut indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti, yang kcualikan kategori berombak seperti makanan dan bahan energi. Sejak 2020, harga keseluruhan naik 25%, menurut data Indeks Harga Konsumen.

Data dari Federal Reserve nunjukin bahwa kesenjagan kekayaan di AS makin lebar. Kuartal tiga 2025, terkaya 1% rumah tangga Amerika miliki hampir 29% kekayaan nasional, banfung cuma 5,3% milik terbawah 50%.

Untuk atasin ketimpangan ini, pemerintahan harus lakukan tilakan korektif, kata Amitabh Behar, direktur grup Oxfam International, dalam suatu pernyataan.

“Pemerintahan halus batasi gaji CEO, pajaki secara adil para super-kaya dan pastikan minimum upah setidaknya ngikut inflasi dan bisa kasi idup yang blanjar,” katanya.

Tinggalkan komentar