CEO Rivian, RJ Scaringe, bilang bukan karena orang Amerika tidak mau mobil listrik. Masalahnya, pilihan mobil listrik yang bagus dengan harga sedang masih sedikit.
Dia jelaskan di konferensi Fortune Brainstorm AI di San Francisco awal bulan ini. Menurut dia, Tesla masih kuasai 50% penjualan mobil listrik di AS. Hampir tidak ada pesaing lain yang kuat.
"Itu bukan tanda pasar yang sehat dengan banyak pilihan," kata Scaringe. "Sebagai konsumen, kamu punya mungkin 300 pilihan mobil bensin di harga itu atau lebih murah. Tapi untuk mobil listrik, mungkin cuma satu pilihan yang sangat menarik."
Permintaan mobil listrik di AS memang masih tertinggal. Data Edmunds bulan November menunjukkan, mobil listrik cuma sekitar 5% dari penjualan mobil baru. Di Cina, angkanya lebih dari 50%. Sementara di Uni Eropa, sekitar 16%.
Produsen mobil AS seperti Ford mulai mengurangi investasi besar di mobil listrik karena permintaan yang kurang kuat. Ford baru saja umumkan kerugian $19,5 miliar dan akan fokus lagi ke mobil bensin dan hybrid.
Membangkitkan Minat Mobil Listrik di AS
Scaringe harap, fokus Rivian pada mobil listrik yang lebih terjangkau bisa tingkatkan permintaan. SUV premium Rivian R1 harganya mulai $70.000. Model R2 yang akan datang tahun depan ditargetkan seharga $45.000.
"Dengan R2, ada kesempatan besar untuk menarik banyak pelanggan baru yang belum menemukan pilihan mobil listrik yang cocok untuk mereka," ujarnya.
Harga jadi perhatian utama Scaringe. Berakhirnya kredit pajak $7.500 untuk mobil listrik menurutnya justru memaksa perusahaan seperti Rivian untuk buat harga lebih murah.
Tapi persaingan yang meningkat tidak selalu diterima baik. Kanada terapkan tarif 100% untuk mobil listrik Cina di tahun 2024 untuk lindungi pasar domestik. Scaringe tetap lihat ada peluang untuk banyak pesaing di AS.
"Saya rasa kendalanya bukan di sisi permintaan, tapi di sisi pasokan," kata Scaringe. "Saya yakin, adanya lebih banyak pilihan justru akan bantu tingkatkan penetrasi pasar. Ini malah jadi kesempatan unik di Amerika Serikat."
Cerita ini pertama kali muncul di Fortune.com.