Saat rudal Iran menutup ruang udara Teluk, beberapa pegolf profesional yang mau pergi ke turnamen LIV Golf di Hong Kong terjebak di Dubai.
Total ada delapan pemain LIV, tiga penyiar, empat kadi dan beberapa anggota keluarga yang terjebak di Timur Tengah, kata CEO LIV Golf Scott O’Neil ke Fortune tanggal 9 Maret, hari ketiga dari turnamen empat hari di Hong Kong.
“Kejadian seperti ini bisa sedikit stres karena fokus kami hanya satu: memastikan pemain, kadi, penyiar dan keluarganya aman,” kata O’Neil.
Para pegolf yang terjebak akhirnya buru-buru pergi ke Oman dan naik jet pribadi pegolf Jon Rahm supaya bisa sampai ke LIV Golf Hong Kong, dan mereka sampai di Hong Kong tepat waktu. (Oman jadi tempat keluar populer untuk ekspat yang lari dari Teluk; tanggal 9 Maret, bandara Muscat membatasi akses jet pribadi untuk memberi tempat buat penerbangan komersial dan pemerintah).
“Kami mengalami banyak tantangan selagi situasi geopolitik berubah. Kami selalu memikirkan keselamatan dulu,” kata O’Neil, memberi pujian buat “perencanaan tepat, sumber daya bagus dan kepemimpinan hebat, terutama dari Jon Rahm dan [manajer umum] Jeff Koski,” dalam evakuasi para pegolf dari zona konflik ke Hong Kong tepat waktu.
Turnamen LIV di Hong Kong, yang diadakan di Hong Kong Golf Club umur 137 tahun di Fanling dekat perbatasan dengan Tiongkok daratan, terlihat beda dari turnamen golf biasa. Ada set DJ dan demo masak dari koki di samping kompetisi, bagian dari dorongan LIV buat “golf untuk semua”. O’Neil mencatat 30% penonton LIV di Hong Kong belum pernah dateng ke turnamen golf sebelumnya.
O’Neil jadi CEO LIV di awal 2025, gantikan legenda Greg Norman yang luncurkan liga baru ini tahun 2021. O’Neil adalah eksekutif olahraga karier, yang pernah mengelola Madison Square Garden, Philadelphia 76ers dan New Jersey Devils, dan terakhir jadi CEO Merlin Entertainments, pengelola resor Legoland, sebelum gabung LIV.
LIV Golf, didanai Public Investment Fund Arab Saudi, muncul dengan janji mengubah golf profesional pria pakai slogan “Golf, tapi Lebih Keras”. Liga ini menarik bintang seperti Rahm, Bryson DeChambeau dan Brooks Koepka dengan kontrak besar dan format yang lebih pendek serta ramah siaran, gabungan kompetisi individu dan tim.
Pemain baru ini masih punya jalan panjang sampai bisa mandiri secara finansial. Cabang LIV Golf di Inggris, yang urus operasi di luar AS, melaporkan kerugian $462 juta di 2024, membuat total kerugian sejak 2022 jadi lebih dari $1,1 miliar. Rencana penggabungan antara PGA Tour dan LIV, diumumkan tahun 2023, sudah mandek.
“Ini bisnis tahap awal,” kata O’Neil. “Kalau kamu ngobrol dengan eksekutif sini, kami punya kepercayaan diri yang tenang.” Dia nambahin bahwa pendapatan total sudah naik dua kali lipat, pendapatan tiket naik sekitar 80% dari tahun lalu, dan turnamen LIV bertanggung jawab buat dampak ekonomi lebih dari $1 miliar di seluruh dunia.
Arab Saudi sudah mengurangi beberapa proyek ambisiusnya, dan perang Iran bisa buat Riyadh lebih hemat. PIF sudah berkomitmen lebih dari $5 miliar buat LIV. Tapi O’Neil optimis dengan keterlibatan PIF, bilang LIV merasa “dihargai, disayang dan didukung,” dan mendeskripsikan pengalaman ini sebagai “perjalanan yang luar biasa bersama investor hebat yang punya pendekatan jangka panjang buat bisnis.”
PGA Tour sudah merespon kompetisi baru ini dengan buka jalan buat pemain LIV buat balik, luncurkan acara “signature” baru dengan hadiah uang besar, dan lebih gencar masuk pasar Asia. Mereka juga pasang CEO baru, Brian Rolapp, bulan Juni. Itu buat LIV balas respon: liga ini akhirnya ubah formatnya supaya pemain bisa kualifikasi ke kejuaraan mayor golf, mengurangi salah satu pembedanya.
LIV pinjam strategi dari olahraga tim di AS buat tutup jarak dengan PGA. Setiap tim operasi seperti waralaba dengan merek dan hak komersial sendiri; kapten tim bisa pegang kepemilikan di timnya dan cari sponsor sendiri. O’Neil konfirmasi ke Fortune bahwa Citi sudah dipekerjakan buat bantu LIV jual sebagian kepemilikan di tim-timnya.
O’Neil—yang sebut LIV sebagai “F1-nya golf”—percaya liga ini bisa cari ceruk global. “PGA Tour itu di Amerika, dan mereka kerja bagus disana,” katanya. “Ada juga lebih dari 100 juta pegolf di luar AS, dan itu pasar yang kami minati.” LIV sudah adakan acara di Korea Selatan dan Australia, dan O’Neil sebut Tiongkok daratan dan Jepang sebagai pasar prioritas.
“Masih banyak ruang buat semua orang,” ujarnya.
Sebelum kita mulai, tolong periksa apakah semua materi sudah siap. Jangan lupa bawa pulpen dan kertas untuk mencatat hal penting. Kalau ada pertanyaaan, silahkan ditanyakan langsung ya.