Selamat kepada lulusan angkatan 2026! Di musim wisuda ini, mungkin tidak ada topik yang lebih besar dari kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini menjanjikan inovasi besar, tapi juga membuat banyak anak muda cemas tentang masa depan karir mereka dan bertanya-tanya apakah gelar kuliah empat tahun masih berharga di pasar kerja saat ini. Bahkan para CEO perusahaan Fortune 500 pun masih belajar cara pakai AI dengan benar.
Ketika CEO Delta Air Lines, Ed Bastian, bersiap untuk pidato wisuda di Emory University, dia coba pakai AI sebagai jalan pintas untuk menghemat waktu. Tapi ternyata, hasilnya kurang memuaskan.
"Dalam membuat pidato ini, karena penasaran, saya minta AI untuk menyiapkannya. Saya kagum betapa cepat dan mudahnya pidato itu dibuat," kata Bastian kepada lulusan Emory hari Senin.
"Tapi saya juga perhatikan pidato itu tidak punya jiwa atau kehangatan. Itu bukan suara pribadi saya, dan tidak mengekspresikan rasa terima kasih saya yang tulus untuk berbagi pengalaman dengan kalian. Kalian ingin dengar dari saya, bukan dari algoritma saya."
Jadi, daripada menyampaikan pidato hasil AI yang hambar, pria berusia 68 tahun ini membuang seluruh drafnya.
"Jadi jangan khawatir," katanya. "Saya buang draf itu dan mulai menulis dengan pensil di kertas," disambut tepuk tangan dari hadirin.
Saran Ed Bastian untuk Gen Z: jaga keaslian kamu—dan hindari jalan pintas
Di era dimana perusahaan makin sering pakai AI untuk tingkatkan produktivitas, beberapa eksekutif bahkan membuat salinan digital dari diri mereka sendiri. Contohnya, CEO di Klarna dan Zoom udah coba pakai avatar AI yang bisa hadir di rapat atau menyampaikan pesan atas nama mereka.
Tapi bagi Bastian, AI paling baik dipake sebagai alat untuk membantu kerja—bukan menggantikan pekerja. Dia bilang ke para lulusan, keaslian dan karakter tetap jadi hal tersulit untuk ditiru oleh teknologi—dan paling penting untuk dilindungi.
"Aset paling penting yang kamu miliki adalah nama baik kamu," katanya ke lulusan. "Itu merek kamu. Itu apa yang kamu perjuangkan. Dan cuma ada satu orang yang bisa mengambil itu dari kamu. Orang itu adalah diri kamu sendiri."
Pesan ini mencerminkan filosofi yang membentuk perjalanan Bastian naik ke puncak perusahaan. Dia memulai karir sebagai auditor di Price Waterhouse (sekarang PwC) sebelum bekerja di PepsiCo. Dia gabung Delta pada 1998 sebagai wakil presiden keuangan dan jadi CFO pada 2005. Satu dekade kemudian, dia diangkat menjadi CEO dan membantu menjadikan Delta salah satu pemain utama di industri penerbangan, dengan nilai pasar lebih dari USD45 miliar.
Tapi, Bastian menambahkan, selama naik jabatan, dia belajar bahwa kesuksesan yang bertahan lama jarang datang dari jalan pintas.
"Karakter tidak terlihat ketika hidup muudah. Karakter terlihat ketika waktu dan keputusan sulit. Seringkali, melakukan hal yang benar ada biayanya. Tapi saya selalu pilih untuk menganggapnya sebagai investasi, investasi yang cerdas," katanya.
"Saya udah buat banyak keputusan penting selama karir saya, dan saya akui, mengambil jalan pintas atau menekan tombol mudah bisa sangat menggoda. Tapi itu tidak pernah memberikan hasil yang bertahan lama atau solusi yang efektif."
Menurut CEO Delta, kemampuan interpersonal lebih penting dari kemampuan teknis
Tidak peduli sehebat apapun teknologi berkembang, orang-orang di sekitar kamu tetap menjadi bagian terpenting dari karir mana pun, menurut Bastian.
"Saran terbaik saya adalah pastikan kamu menjaga orang-orang yang membawa kamu ke sana," katanya kepada Pemimpin Redaksi Fortune, Alyson Shontell awal tahun ini.
Dalam podcast Titans and Disruptors of Industry, Bastian bilang kepemimpinan sering dikaitkan dengan kepercayaan diri, semangat dorong, energi, dan visi—tapi kualitas ini gak akan cukup tanpa hubungan personal yang kuat.
"Ada juga kualitas yang sangat penting, yaitu kerendahan hati dengan kemauan untuk benar-benar mendengar lebih banyak dari bicara, supaya bisa menghargai apa yang orang lakukan, dan berhubungan dengan mereka," ujarnya.
Bastian menyampaikan pesan serupa dalam pidatonya ke lulusan, dengan mengatakan rasa ingin tahu, kerendahan hati, rasa syukur, dan kebaikan hati sama pentingnya dengan keahlian teknis—tapi dia akui menemukan keseimbangan yang tepat gak akan selalu mudah.
"Saya belajar lebih banyak dari kegagalan saya daripada yang pernah diajarkan sukses saya," katanya ke lulusan. "Di situlah pembelajaran nyata terjadi dan keyakinan lahjr. Jadi jangan takut untuk mengambil kesempatan dan bertaruh pada diri kamu sendiri."