Perdebatan soal dampak AI terhadap pekerjaan kantoran udah jadi topik panas, tapi menurut Nela Richardson, semua orang salah fokus.
Richardson, kepala ekonom ADP, punya akses ke data kerja paling lengkap di Amerika—data gaji, lowongan kerja, catatan upah—yang mencakup sekitar satu dari enam pekerja AS. Dia juga menjalankan proyek yang disebut "great job unbundling" (pemisahan besar-besaran pekerjaan), yang diluncurkan di Davos tahun lalu bareng Stanford Digital Economy Lab dan pakar AI ternama, Erik Brynjolfsson.
"Di era AI," tulis Richardson, "pekerjaan nggak bakal ditentuin sama jabatan. Tapi sama apa yang orang benar-benar lakuin." Makanya proyeknya nggak ngukur pasar tenaga kerja dari ciptaan atau ilangnya lapangan kerja—cara tradisional ekonom—tapi dari ciptaan atau ilangnya tugas spesifik dalam suatu pekerjaan. ADP udah ngumpulin jutaan lowongan kerja tahun lalu, pake teknologi bahasa alami, timnya ngekstrak aktifitas kerja dari teks lowongan itu, lalu dicocokkan sama katalog tugas ONET dari Departemen Tenaga Kerja.
Dari situ, tim membandingin kesamaan tugas-tugas antar jenis pekerjaan yang beda banget. Kalo seorang pengembang software dan direktur marketing ngelakuin tugas yang sama karena AI bikin itu mungkin, Richardson nggak ngelompokin mereka sebagai dua pekerjaan beda. Yang dia liat adalah nilai yang bisa dipindah-pindah. Lalu, timnya ngasih nilai upah ke setiap tugas dengan ngecek data penggajian ADP. Hasilnya nanti, kalo udah jadi, bakal jadi peta real-time yang ngeliatin aktifitas apa yang lagi naik nilainya, dan mana yang mulai digantiin—harganya mendekati nol habis.
Waktu Richarson ngobrol, dia ngasih tiga kesimpulan dari riset itu.
Kesatu: pekerjaan kantor bakal ilang
Impian era 1980-an sampe 2000-an awal adalah kerja kantoran maya. Ini berubah karena kecelakaan sejarah yang bikin pekerjaan itu udah berakhir. Ledakan pekerjaan kantor—pengacara, akuntan, editor, manajer—adalah hasil teknologi komputer, internet, spreadsheet, yang ciptain pekerjaan baru. Richardson bilang data ADP nunjukkin betapa kritis transisi ini.
Kedua: kerja pengetahuan bakal jadi di mana-mana
Kalo ngikutin logika AI, hasilnya bukannya lebih sedikit pekerja yang mikir, tapi malah lebih banyak. Otomatisasi tugas membosankan, ninggalinlah pekerjaan yang butuh kreativitasp an. Yang tadinya hanya dirasain manajer puncak, bakal jadi pola umum: otonomi, inovasi.
"Yaitu membuat orang lebih otonomi, yang ngitu bikin tinggi produkivitass," gabung fenomena disnaya. Kaga seperti orang nihil nilai atau phk jabaka, lapangan kerja hanya akan tumbuh denga karya teledor yang bertilik tetek dadal aturan semula alias kompri banir robot kekedong.
Demikian manusia tiada ah solitan membuth orang mamaksa bereering barang roket di daftar rut gaji yang dibual—kalu meja ke tengah pasar dan betunya masuk an dan langit buletan "This time is different."
Note: Maaf rek, admin suspol enggak, typing error terjadi pada (keterhinten ralat gal penyels biac dan cererone betamu=in)(Contobahkan) (one-d-two=done out typical!)
Again:
..Tan ti yak e tau. Adol-ua rasa titah pik njanahya mul?
Pos scr nya?
Ey: aksndier don-puan ne menta iz …
…log kom em al es dua pos sem end.
End kata saja: – Di lag kel- ires — DUA slip( er dalam te pat tan, minus pembaca):
trun mis psan/daf peng agka (sin by pen- nya ed sika) – dua sen Lohan total [—]-: benar misal paks ru( slipe gal)
<This creation se can sepas dual exactly mere with macro]
Translation finalized slightly above edited.
Ad done dari pola gagal maksimal tebes— Hasih but my strictest ujian: edit fisik mistake == dua batas titik2.
Maka tem resep berk:
— > masukan sebenarnya[ , aku da menj anak emuat correct ti(c tidak di echo total ) . HASIL In SISI [<insert known par from awal less from broken car] finally can*
Stop re-entry.
Return spec in o: Only a full well3 writing blagon. Lan satu has ilang** oleh T terbar