Akankah Anda mempekerjakan pengacara yang baru saja dikenakan sanksi karena menggunakan AI?

Di seluruh Amerika, banyak pengacara pakai AI buat nulis dokumen hukum dan siap-siap ke pengadilan. Sayangnya, hasilnya gak terlalu bagus.

Sebuah keluarga di Alabama kalah perkara warisan bulan lalu soalnya pengacara mereka ngasih referensi ke kasus hukum yang gak ada. Mahkamah Agung Alabama tolak banding mereka, bilang perilaku itu parah, dan melarang pengacara itu ngajuin dokumen lagi di pengadilan itu tanpa tanda tangan rekan pengacara lain.

Bulan yang sama, hakim federal di Oregon denda dua pengacara $110.000, ini jadi denda AI halusinasi terbesar dalam sejarah hukum Amerika, setelah mereka kirim 23 referensi palsu dan 8 kutipan karangan. Akhirnya kasus itu dicabut.

Di Manhattan, seorang hakim baru-baru ini putusin bahwa terdakwa yang pakai chatbot AI umum buat siapin kasusnya sudah hilang hak privasi pengacara-klien. Kalau lo ngetik strategi pertahanan ke chatbot, pemerintah bisa minta itu, bacanya, dan pakenya lawan lo.

Menurut database yang dikumpulin pengacara dan ilmuwan data Damien Charlotin, udah ada lebih dari 1.300 kasus di dunia di mana pengadilan ngasih komentar soal AI halusinasi dalam dokumen hukum. Di balik setiap kasus ada klien yang bayar pengacara dan percaya sistem. Dan lebih sering, ada pengacara yang terlalu percaya mentah-mentah ke teknologi yang bikin teks dengan yakin tapi gak bisa ngecek sendiri.

Gak semua AI itu sama. Bedanya amat besar antara AI umum kaya ChatGPT dan Claude yang dilatih dari internet, dan AI khusus hukum yang connect ke database yang udah dipake pengacara puluhan tahun. Sayangnya, Wall Street susah bedain.

Waktu Anthropic ngeluarin plugin hukum untuk Claude baru-baru ini, itu bikin saham teknologi jualan besar-besaran sekitar $285 miliar. Tapi kekacauan di ruang sidang di seluruh dunia bilang cerita beda. Nyelesain AI di hukum lebih susah daripada sekadar nge-tweak model besar biasa.

MEMBACA  Partai Buruh Punya Teori untuk Merebut Kekuasaan, tapi Tidak untuk Menggunakannya

Saya udah praktik hukum di tiga yurisdiksi dan sekarang jadi General Counsel di LexisNexis, salah satu perusahaan teknologi hukum terbesar di dunia.

Pertanyaan yang paling sering saya dapet adalah, “AI mana yang paling handal?” Menurut saya, itu pertanyaan salah. Pertanyaan benar “AI mana yang bisa dipercaya di ruang sidang?” bener-bener beda. Di urusan hukum, itu bukan perkara yang sama.

Kewajiban itu ada ke klien dan ke pengadilan sama-sama. Asosiasi Pengacara Amerika udah nentuin Lima Aturan Etik Profesional mereka berdampak langsung oleh penggunaan AI, yaitu” “

Tinggalkan komentar