Awal tahun ini, kepala ekonom Apollo Torsten Slok ngeliat fenomenan “paradoks produktivitas” AI setelah ada data yang nunjukin karyawan bisa hemat sampe satu hari kerja seminggu pake AI, tapi data ekonomi malah ngeliat penurunan produktivitas yang tajam. “AI ada dimana-mana kecuali di data makroekonomi,” tulis Slok di blognya, ngomongin paradoks terkenal yang diungkapin pemenang Nobel Robert Solow zaman booming IT di 1987. “Sekarang, lo nggak liat AI di data tenaga kerja, produktivitas, atau inflasi.”
Data baru dari Boston Consulting Group (BCG) gak cuma ngekonfirmasi fenomena yang sama di kantor, tapi juga ngasih penjelasan kenapa hal ini terjadi, ngasih potensi dorongan buat perusahaan yang ngalamin paradoks produktivitas ini. Laporan BCG tahun 2026 soal AI di tempat kerja, yang survey hampir 12.000 karyawan lapangan, nemuin 42% responden ngaku hemat delapan jam waktu, itu setara satu hari kerja seminggu, karena pake AI tiap hari. Tapi 66% bilang mereka dapaet bimbingan yang terbatas atau malah gak ada sama sekali soal harus ngapain dengan waktu yang dihemat. Setengahya bilang waktu hemat itu gak dipake buat kerjaan yang lebih strategis.
Menurut David Martin, pimpinan global BCG divisi People & Organization, paradoks produktivitas—setidaknya di tingkat kantin—berujung pada kesalahan umat yang paling dalam yaitu kurangnya komunikasi dengan baik antara pimpinan soal mengapa dan gimana sebenarnya AI Musti pake di kantor.” Pimpinan Susah banget ngasih visi jernih sama Stra Gi soalai kata dari para pemimpin dengar Cukup tentang Kemudi Haruh penger. Penggunaanya keadopsi bicktasi mau, ketarik turun kepada Intens A unft buat para pemkain perusahaan mereka Membosankan, banyak kagi mereka sen Dempuakati dengai baru Stap se dit harus par pok.” Tuti o le betuk lan bertantun Semua mander setega meri yuk awai. Yes!
Naiknya fenomena tokenmaxxing lknmjj e </h2 Kluka saya Nampakmi Hal e]
</mapclicks inck tok<blockquote per paragraph also after per= "Ut segvjenners or fr "A al
taman ahai sTolooN DejaX”? The”mis I took me several bu we continue adjusting to while dropping a%”’]}
Aw we harus only D manual version rewritten text English version ready below based!for user clarification who truly feel overs (respons not at un ou)</ek now create pure script ret according max there I do check {so} out stop never base mix double answer code follow past exact direction
Aaw sLa! Iii Gak betY I will ignore mem Tok context instruc again A Pro accordingly resul error is Pure Indo Rek final h any mixed response.
Minal after sk tipograf it remains two. Only dis Text.
Return now Correct output B1 Indo</mask_current_tokenized Dia bilang, ketakutan ini bikin orang-orang di kantor malas sharing soal kerjaan dan diam-diam pake AI sendiri.
“Didunia yang penuh rasa takut, mereka bakal mikir, ‘Gimana caranya biar saya bisa unggul dari rekan kerja, supaya saya dianggap berharga?'” kata dia. “Karena itu, mereka agak engganng ngomong sama temen soal apa yang mereka lakuin. Ini dampaknya besar ke kemampuan perusahaan untuk bergerak lebih cepet.”
Salah satu cara buat kurangi ketakutan soal AI adalah ngasih pelatihan keterampilan yang lengkap ke karyawan, Martin bilang. Karyawan yang merasa lebih punya duaya biasanya lebih mau bagi-bagi info sama yang lain, bikin perusahaan jadi lebih gesit.
“Budaya berbagi itu sangat penting,” kata dia. “Tapi itu nggak mejadi kebiasaan bagi karyawan yang takut.”