AI Mengharuskan Pengacara untuk Fokus pada Satu Keterampilan Ini

Efisiensi? Presisi? Harga? Saat AI semakin berkembang dan digunakan di industri hukum, kualitas ini mungkin bukan lagi yang paling penting.

AI mengubah profesi hukum; sekarang pengacara punya banyak alat untuk meninjau dokumen, merangkum kasus, bahkan membuat kontrak. Era baru ini menarik perhatian kita karena semua ingin bekerja lebih efisien untuk klien.

Tapi, menurut Laporan Masa Depan Profesional Thomson Reuters, AI hanya menghemat 5 jam per minggu untuk rata-rata profesional hukum. Angka ini menarik untuk diteliti. Memang masih awal, dan angka ini mungkin akan berubah. Namun, di balik kekuatan AI, inti profesi hukum tetap butuh kemampuan manusia—penilaian, persuasi, empati, dan kepercayaan.

Penghematan waktu yang sedikit bukan kegagalan AI, tapi mencerminkan kebutuhan klien dan hukum berkualitas. Di sinilah keunggulan kompetitif sebenarnya: kecerdasan emosional (EQ). EQ tidak hanya melihat fakta, tapi juga menyelaraskan perspektif berbeda, membangun jalan menuju tujuan dengan diplomasi.

AI bisa menangani mekanisme hukum: menganalisis dokumen, membuat kontrak rutin, mendukung pengambilan keputusan. Kemampuan AI mengolah data besar tidak diragukan, tapi yang membuat pengacara penting lebih dari sekadar kekuatan pemrosesan.

Klien beroperasi di pasar global penuh ketidakpastian. Tugas kita adalah memandu mereka di area abu-abu tempat hukum bersinggungan dengan perilaku manusia, prioritas bisnis, dan konteks budaya. Klien butuh perspektif, bukan sekadar jawaban. Hasil kesepakatan sering bergantung pada nuansa, nada, dan waktu, bukan hanya fakta. Di sinilah EQ, bukan IQ, yang berperan.

Dari menangani ketegangan di ruang rapat, memberi saran dalam ketidakpastian, hingga menghubungkan orang dari budaya berbeda, banyak waktu pengacara dihabiskan untuk aktivitas tinggi-EQ. Di sini, AI bisa membantu tapi tidak memimpin.

Ketika AI semakin digunakan, nilai klien akan semakin ditentukan oleh hal-hal yang tidak bisa dikomoditisasi AI.

MEMBACA  Aku Melihat Tikus: Detektif Swasta untuk Disewa – Gameplay: Aksi Tembak-tembakan Gaya Detektif Kartun yang Melimpah

Salah satu mentor saya, yang kariernya sangat sukses, sering bilang bisnis harus “win-win.” Artinya, bisnis dan klien sama-sama untung. Pendekatan ini menekankan kolaborasi dan kepuasan bersama, bukan hanya memaksimalkan keuntungan. Untuk mencapainya, pengacara butuh EQ yang kuat: bisa membaca situasi, memahami kebutuhan kedua belah pihak, dan menemukan solusi yang menguntungkan semua.

Firma harus berinvestasi dalam pengembangan EQ seperti mereka investasi di teknologi. AI sudah meratakan efisiensi, tapi EQ yang kuat akan membuat pengacara menonjol.

Investasi EQ harus dimulai dari pelayanan klien hingga pengembangan bakat. EQ bukan sekadar soft skill, tapi kompetensi inti pengacara sukses.

Pertama, pelatihan EQ harus dimulai sejak pendidikan hukum. EQ harus jadi bagian dari mentorship, pengembangan kepemimpinan, bahkan penilaian kinerja. Kabar baiknya, EQ bisa dipelajari dan diasah kapan saja.

Kedua, pemimpin harus menunjukkan kerentanan. Ini tidak biasa bagi banyak partner sukses, tapi penting untuk menunjukan EQ sebagai kekuatan. Contoh kerentanan adalah mengubah arah jika jalan awal tidak optimal. Saya pernah lihat pemimpin berkorban demi win-win—melepaskan sesuatu untuk kebaikan bersama. Ini butuh keberanian dan EQ kuat.

Terakhir, kita harus memikirkan arti kesuksesan di era AI. Menang penting, tapi membangun kepercayaan, menangani konflik, dan memperkuat hubungan klien juga penting. Menganggap hal-hal ini sebagai faktor sukses akan membuat orang bersinar.

Industri hukum selalu lebih dari sekadar pengetahuan. Ini tentang penilaian, hubungan, dan persuasi—semuanya adalah kemampuan manusia. AI mungkin bisa menggantikan tugas sampingan pengacara, tapi tidak akan pernah menggantikan koneksi dan pemahaman yang dibawa profesional sukses.

Menggabungkan kekuatan AI dengan kesadaran emosional akan memisahkan mereka yang benar-benar paham hukum dari yang hanya mengejar efisiensi. Di era baru ini, sukses bukan untuk yang lebih pintar dari mesin, tapi yang tahu k

MEMBACA  Saham Asia goyah; bitcoin menguat pada \'perdagangan Trump\' Oleh Reuters