Untuk Rakyat, Mari Suarakan Implementasi Prabowonomics di Tengah Dinamika Geopolitik Global

Minggu, 1 Februari 2026 – 01:27 WIB

Jakarta, VIVA – Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu, mendorong agar gagasan Prabowonomics bisa diimplementasikan lebih lanjut di tengah situasi ekonomi dan geopolitik global yang tidak pasti.

Baca Juga:

Menhan Ungkap Presiden Prabowo Bakal Rombak Semua Direksi Bank Himbara, Apa Alasannya?

Gagasan Prabowonomics merupakan strategi Presiden RI Prabowo Subianto dalam menghadapi tantangan dan gejolak ekonomi global. Prabowonomics dianggap dapat mewujudkan Indonesia yang maju dan mandiri. Selain itu, gagasan ini juga dinilai lebih mengedepankan kepentingan nasional untuk kesejahteraan rakyat.

Baca Juga:

Menkeu Purbaya Bakal Minta Traktir Prabowo Kalau Ekonomi RI Tembus 6%

Hal tersebut disampaikan Mari Elka dalam diskusi bertajuk “Tantangan Prabowonomics Setelah Davos: Gonjang-Ganjing Pasar dan Intervensi Asing” yang diadakan Total Politik, di Menteng, Jakarta, Sabtu, 31 Januari 2026.

“Melihat pidato presiden di Davos, sebenarnya buat saya cukup jelas bahwa ‘Indonesia first’ dan saya rasa dari dulu kita memang harus menetapkan posisi kita seperti itu dalam konteks global. Yang pertama, kita harus melindungi kepentingan nasional. Jadi, apapun interaksi kita dengan dunia internasional, yang harus dikedepankan adalah kepentingan nasional,” ujar Mari Elka.

Baca Juga:

Istana soal Surat Pengunduran Diri Tiga Komisioner OJK: Sedang Diproses

Berhubungan dengan itu, Mari Elka kemudian menekankan pentingnya memperkuat berbagai industri dalam negeri, salah satunya komoditas tembakau yang menjadi penyumbang devisa terbesar ke negara. Menurut dia, jangan sampai pemerintah ikut memperparah dengan menekan dan mempersulit industri hasil tembakau dalam negeri. Dia menyebut Amerika Serikat pernah menekan industri hasil tembakau asal Indonesia.

“Jadi dulu saya sebagai Mendag berantem sama Amerika karena mereka melanggar azas paling fundamental di WTO, yaitu diskriminasi. Waktu itu Amerika melarang ekspor tembakau dari Indonesia dengan alasan kretek itu menciptakan rasa yang manis atau enak sehingga anak muda jadi ketagihan rokok,” ucap Mari Elka.

MEMBACA  Raih Komitmen Investasi Rp472 Triliun di World Expo 2025, Paviliun Indonesia Lampaui Target

Anehnya, lanjut Mari Elka, larangan tersebut hanya berlaku untuk kretek, tapi tidak untuk menthol. Ia menilai ini sebagai tindakan yang diskriminatif.

“Mereka mengeluarkan aturan, tapi yang dilarang cuma kretek, menthol tidak dilarang. Jadi kita bilang, apa bedanya menthol sama kretek? Sama-sama daun kok,” tuturnya.

Halaman Selanjutnya

Meski begitu, Mari Elka mengaku tidak kenal lelah memperjuangkan kepentingan nasional. Hingga akhirnya Indonesia menang karena Amerika tidak mampu membuktikan tudingannya.

Tinggalkan komentar