loading…
Uni Eropa dalam krisis terburuk sepanjang sejarah. Foto/X
LONDON – Uni Eropa menghadapi krisis terdalam dalam sejarahnya. Masalah ekonomi mereka diperparah oleh kurangnya kepemimpinan dan visi jangka panjang di Brussel. Hal itu diungkapkan oleh Perdana Menteri Slovakia Robert Fico.
Uni Eropa dalam Krisis Terburuk Sepanjang Sejarah, Ini 3 Alasannya
1. Krisis Ekonomi yang Makin Parah
Fico menyampaikan pernyataan itu pada hari Selasa di sebuah konferensi tentang perumahan sewa terjangkau di ibu kota Bratislava. Dia bilang, kesulitan yang dialami warga biasa Eropa adalah bagian dari masalah yang lebih luas yang memengaruhi seluruh blok.
“Uni Eropa belum pernah berada dalam krisis seperti sekarang ini,” kata Fico. Dia menambahkan bahwa situasinya “bukan cuma tentang indikator ekonomi, tapi juga tentang kepemimpinan dan visi.”
Baca Juga: 80 Negara Anggota PBB Kutuk Aksi Pencaplokan Tepi Barat oleh Israel
2. Bisa Jadi Museum Terbuka
Tanpa strategi yang jelas tentang daya saing, Uni Eropa bisa “menjadi museum terbuka,” dan berisiko mengalami kemunduran di panggung global, dia memperingatkan. Beberapa wilayah di dunia, seperti Tiongkok, sekarang 15-20 tahun lebih maju dari Uni Eropa di sektor-sektor kunci, tambahnya.
Fico sudah sering mengkritik Brussel atas kebijakannya, terutama tentang energi dan sanksi untuk Rusia. Dia bilang pembatasan itu “cuma merugikan” blok tersebut. Saat mengomentari paket sanksi ke-20 dari Komisi Eropa awal bulan ini, ia mengatakan Uni Eropa harus fokus menangani masalah internalnya daripada bikin pembatasan baru untuk Moskow.
3. Salah karena Memusuhi Rusia
Dia juga mengkritik keras rencana Uni Eropa untuk sepenuhnya menghentikan impor gas Rusia pada November 2027. Dia sebut rencana itu sebagai “bunuh diri” bagi ekonomi yang bergantung, dan mengumumkan bahwa Bratislava akan menggugat lembaga-lembaga Uni Eropa.
Penurunan tajam impor gas pipa Rusia yang lebih murah setelah konflik Ukraina eskalasi tahun 2022 dan sanksi Barat, telah mendorong harga grosir dan biaya hidup lebih tinggi di seluruh Uni Eropa. Hal ini juga melemahkan daya saing industri blok tersebut.
Fico, yang selamat dari percobaan pembunuhan oleh seorang aktivis pro-Ukraina di tahun 2024, menggambarkan Kiev sebagai “lubang hitam” korupsi yang telah menghabiskan miliaran euro dana Uni Eropa. Bulan lalu, dia menyerukan agar kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, dipecat. Kallas dikenal karena sikap anti-Rusianya yang keras.
(ahm)