Selasa, 24 Maret 2026 – 00:10 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa dia telah memerintahkan militer AS untuk menunda rencana menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari. Keputusan ini diambil setelah AS melakukan pembicaraan dengan Iran yang dianggap berjalan lancar dan menunjukkan kemajuan.
“Saya dengan senang hati melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran, dalam dua hari terakhir, telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan lancar terkait penyelesaian penuh dan menyeluruh atas konflik kita di Timur Tengah,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya pada hari Senin, seperti dikutip dari laman Al Jazeera, Selasa 24 Maret 2026.
Trump juga menyebut dia telah menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik Iran selama lima hari, tergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung.
Pengumuman terbaru ini diperkirakan akan menjadi kabar yang melegakan bagi kawasan Timur Tengah, yang selama ini terdampak langsung oleh konflik dengan Iran, serta bagi dunia secara luas. Perang tersebut telah memicu krisis energi global dan menyebabkan harga minyak melonjak tajam.
Dalam upaya menurunkan harga energi, pada hari Sabtu Trump memberi waktu 48 jam kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi semua kapal. Dia memperingatkan bahwa jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan pembangkit listrik Iran. Ultimatum ini bertujuan mengakhiri kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Koresponden Al Jazeera, Osama Bin Javaid, mengatakan bahwa melalui pengumuman ini, Trump mungkin telah membuka peluang untuk meredakan perang dengan Iran.
“Ini adalah kabar penting yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh semua pihak di kawasan dan juga dunia… bahwa Donald Trump, yang memulai perang ini secara sepihak, juga bisa mengakhirinya secara sepihak,” ujarnya.
Sementara itu, jurnalis Al Jazeera, Alan Fisher dari Washington DC, mengatakan Trump tampaknya sedang mencari jalan keluar dari masalah ini.
“Dia menetapkan tenggat waktu lima hari, kita akan lihat ke mana arah pembicaraan ini. Tapi perlu diingat, tenggat waktu dari Trump sering kali fleksibel. Bisa saja pada hari Jumat nanti belum ada penyelesaian,” katanya.