Selasa, 6 Januari 2026 – 23:06 WIB
Jakarta, VIVA – Presiden Donald Trump menyatakan industri minyak Amerika Serikat (AS) bisa ‘kembali beroperasi normal’ di Venezuela dalam waktu 18 bulan (1,5 tahun). Hal ini dikatakannya setelah operasi militer kilat yang menggulingkan Presiden Nicolas Maduro dari kekuasaan.
"Sejumlah besar uang harus dikeluarkan. Perusahaan minyak akan mengeluarkan dan terus mengeluarkannya. Kemudian, barulah mereka akan mendapat penggantian dari kita atau melalui pendapatan," kata Trump, seperti dikutip dari situs BBC, Selasa, 6 Januari 2026.
Perwakilan dari perusahaan-perusahaan minyak besar AS rencananya akan bertemu dengan Pemerintahan Donald Trump akhir pekan ini.
Para analis sebelumnya mengatakan bahwa dibutuhkan puluhan miliar dolar AS, dan berpotensi selama satu dekade, untuk memulihkan produksi Venezuela seperti sedia kala.
Pernyataan Trump itu muncul beberapa hari setelah ia mengatakan AS akan ‘mengelola’ Venezuela setelah penggulingan Maduro – yang kini telah dibawa ke AS untuk menghadapi tuduhan pidana.
"Keberadaan Venezuela sebagai produsen minyak menguntungkan Amerika Serikat karena dapat menekan harga minyak," tegas Trump.
Meski begitu, para analis menilai bahwa perusahaan minyak akan mencari jaminan bahwa pemerintahan yang stabil telah berkuasa. Bahkan ketika mereka berinvestasi, proyek mereka tidak akan membuahkan hasil selama bertahun-tahun.
Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak sebesar 303 miliar barel, terbesar di dunia. Namun produksi minyaknya telah menurun sejak awal tahun 2000-an. Pemerintahan Trump melihat potensi yang signifikan untuk prospek energi mereka sendiri dalam cadangan Venezuela tersebut.
Meningkatkan produksi minyak negara itu akan memakan biaya yang besar bagi perusahaan-perusahaan minyak AS. Selain itu, minyak Venezuela bersifat berat dan lebih sulit untuk dimurnikan. Saat ini hanya ada satu perusahaan AS, Chevron, yang masih beroperasi di negara tersebut.
Ketika dimintai komentar mengenai rencana Trump untuk produksi minyak AS di Venezuela, juru bicara Chevron, Bill Turenne, mengatakan bahwa perusahaan "tetap fokus pada keselamatan dan kesejahteraan karyawan kami, serta integritas aset kami".
"Kami terus beroperasi dengan sepenuhnya mematuhi semua hukum dan peraturan yang relevan," tambah Turenne. Perusahaan energi besar AS lainnya, Exxon dan ConocoPhillips, tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Sebagai informasi, perusahaan minyak AS memiliki sejarah panjang di Venezuela, mengekstraksi minyak berdasarkan perjanjian lisensi.
Halaman Selanjutnya
Venezuela menasionalisasi industri minyaknya pada 1976. Pada 2007, Presiden Hugo Chavez menerapkan kontrol negara yang lebih ketat atas aset-aset milik asing yang tersisa dari perusahaan-perusahaan minyak AS yang beroperasi di negara tersebut.