Trump Klaim Pemimpin Iran Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel

Minggu, 1 Maret 2026 – 07:21 WIB

Iran – Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia setelah serangan yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Kabar ini disampaikan langsung oleh Presiden AS, Donald Trump, melalui unggahan di akun media sosial Truth.

Ayatollah disebut meninggal dalam usia 86 tahun. Dalam unggahannya, Trump menyebut ulama Muslim Syiah ini sebagai salah satu orang paling jahat dalam sejarah.

Trump tidak memberi rincian tambahan. Namun, empat pejabat keamanan Israel menyatakan Ayatollah Khamenei tewas akibat serangan udara Israel yang menghantam kompleks kediamannya di Teheran, seperti dikabarkan The New York Times, Minggu 1 Maret 2026.

Serangan itu adalah tahap awal operasi gabungan yang bertujuan melumpuhkan program nuklir dan kekuatan militer Iran, sekaligus mendorong perubahan pemerintahan. Asap hitam terlihat membumbung di atas kompleks tersebut pada Sabtu, meski belum jelas apakah sang pemimpin berada di lokasi saat serangan terjadi. Sumber-sumber Israel menyebutkan sasaran serangan adalah para petinggi militer dan sipil, termasuk Ayatollah.

Dalam pengumumannya—yang merupakan serangan kedua oleh pasukan Israel dan AS sejak Juni 2025—Trump secara terbuka mendesak rakyat Iran untuk "mengambil alih pemerintahan kalian" setelah operasi selesai. Sebelumnya, ia juga menyerukan warga Iran untuk bangkit dan menjanjikan dukungan AS, menyusul demonstrasi besar-besaran anti-pemerintah yang pecah pada Desember. Dipicu krisis ekonomi parah, aksi protes itu berkembang menjadi gelombang demonstrasi menentang sistem teokrasi yang telah lama berkuasa di Iran. Seruan yang sebelumnya tabu seperti "Matilah Khamenei!" terdengar dalam aksi-aksi di berbagai kota.

Pasukan keamanan merespons dengan tindakan keras dan berdarah. Lebih dari 6.800 demonstran dilaporkan tewas dan puluhan ribu lainnya ditahan. Ayatollah Khamenei menyalahkan Trump atas kekerasan tersebut, dan menyebutnya sebagai "penjahat" yang secara terbuka mendorong para demonstran dengan janji dukungan militer AS.

MEMBACA  53 Relawan Grup Pertamina Bergabung dalam Kegiatan Membersihkan Masjid di Sorong

Sebagai pengikut awal Ayatollah Ruhollah Khomeini, ulama yang menginspirasi revolusi melawan monarki Iran yang didukung AS, Khamenei dikenal tegas menentang Amerika Serikat dan Israel, menolak liberalisme Barat, serta berpegang ketat pada kebijakan sosial fundamentalis.

Sejak menjadi pemimpin tertinggi Iran pada 1989, menggantikan Khomeini, Khamenei memegang otoritas politik dan keagamaan tertinggi di Republik Islam tersebut. Ia berada di atas presiden terpilih dan mengawasi angkatan bersenjata, aparat keamanan dalam negeri, peradilan, media pemerintah, serta kebijakan luar negeri.

Tinggalkan komentar