Kamis, 8 Januari 2026 – 12:36 WIB
Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump membela aksi petugas Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) yang menembak mati seorang wanita di Minnesota pada Rabu, 7 Januari. Setelah melihat video kejadian yang viral di media sosial, Trump menyimpulkan bahwa petugas tersebut bertindak “untuk membela diri.”
Baca Juga:
Petugas Imigrasi AS Tembak Mati Wanita di Minnesota, Korban Dituduh Teroris
“Saya baru saja melihat rekaman kejadian di Minneapolis. Ini sangat mengerikan untuk ditonton. Wanita yang berteriak itu jelas seorang provokator profesional, dan pengemudi mobilnya sangat tidak tertib, menghalangi dan melawan. Dia dengan sengaja dan kejam menabrak petugas ICE, yang kemudian menembak untuk membela diri,” tulis Trump di Truth Social, Rabu, 8 Januari 2026.
Trump menambahkan bahwa petugas ICE tersebut selamat dan sedang dalam pemulihan di rumah sakit.
Baca Juga:
Kutuk Keras Tindakan Trump, China Tetap Pertahankan Kerjasama dengan Venezuela
Petugas ICE Tembak Mati Wanita di Minneapolis
“Situasi ini sedang diselidiki tuntas. Namun, akar masalahnya adalah karena Kelompok Kiri Radikal setiap hari mengancam dan menyerang petugas penegak hukum dan agen ICE kita. Mereka hanya berusaha menjalankan tugas untuk MENJAGA KEAMANAN AMERIKA. Kita harus dukung dan lindungi petugas kita dari Gerakan Kiri Radikal yang penuh Kekerasan dan Kebencian ini!” ujar Trump.
Baca Juga:
Trump Ingin Kontrol Minyak di Venezuela, China: Merusak Hak Rakyat!
Menteri Keamanan Dalam Negeri, Kristi Noem, dalam konferensi pers menggambarkan insiden ini sebagai “terorisme domestik” terhadap petugas ICE oleh seorang wanita yang “berusaha menabrak dan melindas petugas dengan mobilnya. Seorang petugas bertindak cepat dan defensif, menembak untuk melindungi diri dan orang di sekitarnya.”
Noem menyebut wanita itu bagian dari “gerombolan penghasut” dan menyatakan petugas sudah ikuti prosedur saat terancam. Dia katakan petugas veteran yang menembak itu sebelumnya pernah ditabrak dan diseret oleh seorang pengemudi anti-ICE pada bulan Juni.
Senada, Juru Bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), Tricia McLaughlin, mengatakan di platform X bahwa insiden terjadi saat “perusuh kekerasan” coba ganggu operasi ICE di kota tersebut. McLaughlin menyebut salah satu pengunjuk rasa mencoba “menabrak petugas kita dalam upaya membunuh mereka—sebuah aksi terorisme domestik.”