Transformasi Surabaya Menuju Kota Berbasis Layanan: Ujian di Lapangan

Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) – Surabaya, ibu kota Jawa Timur, tetap menjadi pusat aktivitas yang ramai di jalan-jalan raya, pelabuhan, dan pusat perbelanjaannya, semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu kota besar di Indonesia.

Kota ini telah berkembang melampaui reputasinya sebagai kota industri dan pelabuhan, semakin menegaskan dirinya sebagai pusat jasa yang dibangun di atas fondasi kepercayaan, konektivitas, dan kualitas.

Transformasi ini bukanlah kebetulan lahir dari kebutuhan dan juga strategi. Seiring pergeseran struktur ekonomi nasional menuju sektor jasa, kota-kota besar didorong untuk beradaptasi.

Surabaya, dengan sejarah panjangnya sebagai pusat perdagangan untuk Indonesia timur, berada dalam posisi strategis untuk memimpin transisi ini.

Data menunjukkan bahwa sektor perdagangan besar dan eceran menyumbang lebih dari seperempat produk domestik regional bruto (PDRB) kota ini, diikuti oleh industri pengolahan, akomodasi, serta makanan dan minuman.

Ini berarti ekonomi Surabaya sekarang sangat bergantung pada aktivitas jasa, memfasilitasi pergerakan barang, orang, dan pengalaman.

Namun, menjadi kota berbasis jasa bukan hanya soal statistik. Ini melibatkan perubahan pola pikir: dari ekonomi berbasis produksi menjadi ekonomi berbasis jasa. Di sinilah Surabaya sedang diuji.

Transparansi

Dalam pergeseran menuju kota berbasis jasa, kepercayaan adalah modal utama. Tanpanya, investasi tidak akan mengalir, transaksi akan melambat, dan jasa akan kehilangan legitimasi.

Dalam hal ini, Pemerintah Kota Surabaya telah mendorong digitalisasi sebagai alat untuk membangun transparansi.

Digitalisasi dalam layanan publik—mulai dari pemantauan pajak hotel dan restoran hingga rencana parkir tanpa tunai—menunjukkan upaya sistematis untuk menutup kebocoran sambil meningkatkan akuntabilitas. Hasilnya sudah mulai terlihat.

Pendapatan dari sektor hotel, misalnya, telah meningkat secara signifikan, menandakan bahwa sistem yang lebih transparan dapat secara efektif meningkatkan pendapatan daerah.

MEMBACA  Pria Usia 48 Tahun Ditangkap Polres Simalungun Terkait Dugaan Pencabulan Terhadap Balita

Surabaya mencatat bahwa 75 persen pendapatan daerahnya berasal dari kemampuan sendiri.

Sementara banyak daerah masih sangat bergantung pada transfer dari pemerintah pusat, Surabaya menunjukkan bahwa kemandirian fiskal dapat dibangun dengan mengoptimalkan sektor jasa, yang dikelola dengan pendekatan modern.

Meskipun demikian, digitalisasi juga membawa tantangan. Di lapangan, perubahan sistem seringkali berbenturan dengan kebiasaan lama di kalangan bisnis dan publik. Transisi ke pembayaran tunia, misalnya, membutuhkan literasi digital yang luas dan kepercayaan terhadap keadilan serta keamanan sistem tersebut.

Lebih jauh lagi, digitalisasi juga menuntut kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia untuk memastikan inovasi dapat memberikan solusi.

Inilah mengapa penting untuk mengadopsi pendekatan yang tidak hanya teknologis tetapi juga sosial—yang berfokus pada edukasi, pendampingan, dan memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal.

Selain itu, transparansi harus melampaui aspek fiskal. Transparansi juga mencakup seluruh rantai layanan, mulai dari perizinan investasi hingga layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Ketika warga merasakan layanan yang adil dan mudah diakses, kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya.

Ekonomi inklusif

Pertumbuhan ekonomi Surabaya, yang konsisten di atas rata-rata nasional, menunjukkan mesin ekonomi kota yang kuat. Pada 2025, pertumbuhan ekonominya berada di 5,87 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan Jawa Timur dan nasional.

Pertanyaan vitalnya bukan seberapa cepat ekonomi tumbuh, tetapi seberapa luas manfaatnya dibagikan. Untuk menjadi kota berbasis jasa yang ideal, Surabaya harus lebih dari sekadar efisien Surabaya harus inklusif.

Pemerintah kota tampaknya menjawab tantangan ini melalui berbagai program sosial dan ekonomi. Kemajuan signifikan terlihat pada penurunan tingkat pengangguran, yang turun dari hampir 10 persen pada 2021 menjadi proyeksi 4,47 persen pada 2026. Demikian pula, angka kemiskinan ditargetkan turun secara stabil, diperkirakan mencapai 3,48 persen.

MEMBACA  Lesti Kejora Stars in the Soap Opera "Aku Mencintaimu karena Allah" with Rizky Billar, Hopes to EntertainLesti Kejora Memerankan Pemeran Utama dalam Sinetron "Aku Mencintaimu karena Allah" bersama Rizky Billar, Berharap Untuk Menghibur

Di sektor ekonomi mikro, pengalokasian anggaran besar untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) adalah langkah vital.

UMKM adalah tulang punggung sejati ekonomi jasa. Ini termasuk orang-orang yang menjalankan warung, kafe, jasa kreatif, dan bisnis berbasis komunitas. Tanpa mereka, kota berbasis jasa akan kehilangan kedalaman sosialnya.

Tantangan terkait inklusivitas bukan hanya soal akses terhadap modal, tetapi juga akses terhadap pasar, teknologi, serta jaringan.

Banyak usaha kecil yang belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam ekosistem digital. Jika tidak ditangani, kesenjangan ini bisa melebar, menciptakan ekonomi yang terbelah: satu yang modern dan satu lagi yang tertinggal.

Lebih Jauh, pertumbuhan sektor jasa membawa konsekuensinya sendiri, di mana peningkatan hotel, restoran, dan pusat perbelanjaan harus diimbangi dengan perencanaan kota yang berkelanjutan. Tanpanya, kota akan terjebak oleh kemacetan lalu lintas yang kronis, tekanan lingkungan, dan ketimpangan spasial.

Dalam konteks ini, arah pembangunan Surabaya, yang menonjolkan kesejahteraan sosial, pendidikan, dan kesehatan, menjadi relevan. Alokasi anggaran besar untuk sektor-sektor ini menunjukkan bahwa pengembangan sumber daya manusia—sebagai fondasi ekonomi jasa—tetap menjadi prioritas.

Ke depan, Surabaya berada dalam posisi yang tepat untuk memperkuat statusnya sebagai pusat perdagangan dan jasa. Namun, peluang itu hanya dapat diwujudkan jika kota tersebut berhasil menyeimbangkan pertumbuhan dengan pemerataan. Sebuah kota jasa yang kuat didefinisikan bukan hanya oleh volume transaksinya, tetapi juga oleh rasa yang atas semua warganya.

Surabaya sedang menulis babak baru dalam sejarahnya. Bertransisi dari kota pelabuhan menjadi hub berbasis jasa, Kota ini beralih dari ekonomi berbasis barang menuju satu yang digerakkan oleh jasa setiap layanan.  Jalan ke depan mungkin tidak selalu mudah, tetapi pertanyaan jelas seperti sakit dasar yang sederhana ini jalan: sedang tetap pasti dikejar dan bisikin diam-diam ibu kota, atau ancar- siaga sepadan terutama tidak setara tapi langsung dari tiga kunci pendapatan yang awal baru dipangku sejahtera kunci.

MEMBACA  Apa Makna Jaminan dan Konsesi Keamanan dalam Perundingan Damai Ukraina di Gedung Putih?

Jawabannya akan menentukan tinggi tegap jabarmu sudah jadi lagi pura pinggir terlalu salah sejak nilai bergabung perona siap bukan butuh pintar rayu yang dengan cara bandar seremonial ini besar lelain atau pelaut itu repot.

Kening masa. (*r9 ri** misyar)

Tinggalkan komentar