Transformasi Identitas Bangsa Persia dalam Pemerintahan Islam

loading…

Kemenangan umat Islam atas dua kekuatan besar pada waktu itu, yaitu Persia dan Romawi, pada masa Khalifah Umar bin Khattab membuat penduduk lokal ramai-ramai memeluk agama Islam. Foto ilustrasi/ist

Kisah keruntuhan Kekaisaran Sassaniyah (Persia) ini menarik untuk diikuti. Bangsa Persia atau yang sekarang disebut Iran, memang sedang menjadi bahan pembicaraan publik saat ini. Bagaimana kisah negeri tersebut? Simak ulasannya dibawah ini.

Penaklukan Persia

Persia dan Romawi merupakan dua kekuatan raksasa sebelum Islam berkembang. Kemenangan umat Islam atas kedua kekuatan besar itu, terutama di era Khalifah Umar bin Khattab, menyebabkan masyarakat setempat berbondong-bondong masuk Islam. Di sisi lain, orang-orang Arab juga menjadi bersemangat menikmati hidup setelah mendapatkan harta rampasan perang yang memudahkan mereka.

Muhammad Husain Haekal dalam buku terjemahan Ali Audah berjudul “Umar bin Khattab” (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menyebutkan bahwa memang benar, di dalam hati bangsa-bangsa yang telah ditaklukkan – khususnya Iran – masih tersimpan rasa dendam terhadap pihak pemenang yang bisa muncul sewaktu-waktu. “Tetapi dendam ini tidak sampai menghentikan interaksi yang wajar dengan segala pengaruh perkembangannya pada mental kedua belah pihak, yang menang dan yang kalah, atau mengubah pandangan mereka kembali ke cara hidup lama,” kata Haekal.

Akibat perkembangan ini, lanjut Haekal, juga tidak menghentikan saling mendekatnya pandangan-pandangan, yang dampaknya di masa Umar belum terlihat. Meski begitu, proses itu tetap berjalan, dan kerjanya menghasilkan dampak tersebut beberapa tahun kemudian, saat Ali bin Abi Thalib menjadikan Kufah sebagai ibu kotanya.

Baca juga: Asal-usul Nama Iran: Mengapa Identitas Persia Ditinggalkan?

Setelah itu, datang Mu’awiyah yang mengubah Damaskus menjadi ibu kotanya. Kemudian, dalam alam pikiran orang Arab, muncul aliran-aliran pemikiran yang dibawa oleh filsafat Yunani, dilanjutkan dengan masuknya kesenian Persia dan sistem pemerintahan Persia ke dalam tata kehidupan Islam, yang berakhir dengan dijadikannya Baghdad sebagai ibu kota dunia.

MEMBACA  FIRMA HUKUM ROSEN PERINGKAT TINGGI Mendorong Investor MGP Ingredients, Inc. Untuk Mendapatkan Bantuan Hukum Sebelum Batas Waktu Penting dalam Tindakan Kelas Sekuritas

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, perkembangan itu berjalan sangat cepat, meskipun hasilnya belum tampak secara langsung. Langkah ini telah merintis lahirnya sebuah peradaban baru yang di dalamnya terkumpul agama yang dianut umat Islam, filsafat Yunani, Persia, dan Mesir, beserta ilmu pengetahuan, seni, dan adat budayanya.

Tatanan dan Sistem Kehidupan Baru

Dengan demikian, dirintis pula sebuah sistem baru dalam tata kehidupan yang mencakup aspek politik, ekonomi, sosial, dan cara berpikir, yang kemudian menyatu ke dalam kehidupan masyarakat umum dan kehidupan pribadi.

Menurut Haekal, tidak terlihatnya dampak perkembangan ini di masa Umar karena masyarakat Arab saat itu sibuk memikirkan masalah mereka sendiri dalam menghadapi musuh dan cara mengatasinya. Selain itu, bangsa-bangsa yang sedang sibuk mengurus diri mereka sendiri juga lupa memikirkan hal lain selain melihat bencana kekalahan yang menimpa mereka.

Dalam hal ini, sangat jarang kita temui dalam buku-buku sejarawan awal yang menggambarkan suasana perkembangan ini dari sisi psikologi manusia.

Kalau pun ada yang kita ketahui sedikit, itu pun tersembunyi dan hampir tidak kelihatan, karena sudah tertutup oleh rangkaian peristiwa yang terjadi.

“Hanya saja, penjelasan tentang peristiwa-peristiwa itu tidak memberi kesempatan bagi kita untuk meragukan terjadinya interaksi tersebut pada masa-masa kemenangan awal itu,” tutur Haekal.

Tinggalkan komentar