Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (ANTARA) – Warga Desa Pasar Tukka, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, meneruskan tradisi memasak lemang atau ketan dalam bambu jelang Lebaran di bekas rumah mereka yang rusak diterjang banjir tahun lalu.
Memasak lemang, hidangan dari beras ketan dan santan yang dimasak dalam bambu, adalah tradisi tahunan. Meski berasal dari budaya Minangkabau Sumatera Barat, makanan ini sudah menjadi menu wajib bagi warga Tukka saat perayaan Idul Fitri dan Tahun Baru.
Ketika ditemui ANTARA di lokasi pada Jumat, Lismawarni Siagian sedang menyiapkan lemang di sepetak tanah. Kini menumpang di rumah sewa di desa tetangga, ia kembali ke tempat rumahnya dahulu berdiri.
“Saya sengaja masak lemang disini, di atas bekas rumah saya yang tertimbun (material banjir). Dulu tiap tahun saya bikin lemang di sini,” kata Siagian.
Rumahnya yang terletak di pinggir jalan, tertimbun lumpur setelah banjir bandang. Lumpur itu kini mengering dan mengeras, membentuk gundukan yang menutupi rumahnya.
Memasak lemang menjadi cara baginya untuk menghidupkan kembali kenangan sebelum hidupnya berubah karena bencana.
Menurut dia, warga Tukka biasanya bergotong-royong menyiapkan lemang jelang Lebaran.
Saat itu, warga sudah setengah jalan memanggang bambu berisi lemang di atas api unggun.
Tak jauh dari Siagian, Hotnida Simanjuntak dan keluarganya juga memasak lemang di halaman bekas rumahnya yang tertimbun lumpur.
Lemang yang dia siapkan bukan hanya untuk konsumsi sendiri tapi juga untuk dijual. Ia mengatakan hasil penjualan membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Satu batang lemang di Tukka biasanya dihargai Rp40.000.
“Lemang ini tidak hanya untuk kami; sebagian ada pesanan dari warga sekitar. Tidak banyak, tapi kami bersyukur,” ujarnya.