Tingkat Kepuasan Akademik terhadap Program Riset dan Pengembangan Indonesia Capai 85,8 Persen

Jakarta (ANTARA) – Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi mencatat tingkat kepuasan akademik sebesar 85,8 persen terhadap pelaksanaan program riset dan pengembangannya.

Angka tersebut dirilis di Jakarta pada Jumat sebagai bagian dari Survei Evaluasi Program Ditjen Risbang Tahun 2025.

Dirjen Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menyatakan survei ini juga menangkap persepsi positif mengenai relevansi dan dampak program-program tersebut.

Sebanyak 87,1 persen responden menyebut program-program tersebut selaras dengan kebutuhan riset dan pengembangan perguruan tinggi, sementara 88,1 persen menyatakan program berkontribusi dalam peningkatan kualitas riset, termasuk pengembangan bakat, luaran, jejaring, dan dampak.

“Temuan ini juga menunjukkan persepsi positif terhadap program Ditjen, dengan 87,1 persen responden menyatakan program relevan dengan kebutuhan riset dan pengembangan perguruan tinggi,” kata Fauzan.

“Serta 88,1 persen menyatakan mendukung peningkatan kualitas riset, mencakup pengembangan bakat, luaran, jaringan, dan dampak,” tambahnya.

Survei melibatkan 5.942 responden yang terdiri dari dosen, peneliti, dan manajer riset dan pengembangan di perguruan tinggi.

Mayoritas responden berasal dari perguruan tinggi akademik, berjumlah 5.353 orang atau 90,0 persen, sementara 589 responden atau 9,9 persen dari pendidikan vokasi.

Secara kelembagaan, responden didominasi oleh perguruan tinggi swasta sebesar 86 persen, diikuti oleh PTN Badan Hukum, PTN Satker, dan PTN BLU.

Secara regional, porsi terbesar responden berasal dari Jawa sebesar 39,50 persen, lalu Bali dan Nusa Tenggara 21,37 persen, Sumatera 19,08 persen, Sulawesi-Maluku-Papua 17,20 persen, serta Kalimantan 2,84 persen.

Fauzan mengatakan hasil survei ini mencerminkan sekaligus capaian maupun masukan strategis bagi Ditjen Risbang.

Menurutnya, program dan layanan yang dijalankan dianggap sudah pada jalur yang tepat, relevan, dan berdampak bagi pemangku kepentingan.

MEMBACA  Shayne Pattynama Marah ke Wasit Ahmed Al Kaf, Netizen: Terima kasih telah Mewakili

“Hasil ini menunjukkan program dan layanan kita sudah di jalan yang benar dan dipandang relevan serta berdampak oleh stakeholder,” ujarnya.

“Namun, kami juga menanggapi serius berbagai catatan perbaikan dari responden, khususnya tentang durasi program, komunikasi yang lebih kuat, serta akses dan partisipasi yang lebih luas dalam program kolaborasi riset dan hilirisasi,” imbuhnya.

Survei juga menemukan 85,7 persen responden menganggap pelaksanaan program efektif, sementara 80,5 persen menyatakan durasi program sudah memadai.

Dalam hal dampak, 87,7 persen responden menyatakan luaran program memberikan manfaat bagi dosen, mahasiswa, perguruan tinggi, dan masyarakat luas.

Tingkat pemahaman terhadap program Ditjen berada di angka 86,1 persen.

Informasi yang disampaikan melalui kanal resmi dinilai jelas dan cukup oleh 87,9 persen responden, sosialisasi program dianggap optimal oleh 86,5 persen, pedoman teknis mudah diakses oleh 87,7 persen, serta arahan kebijakan risbang disampaikan dengan jelas dan mudah dipahami oleh 85,9 persen.

Di samping capaian itu, survei juga mengidentifikasi beberapa hal yang perlu penguatan, termasuk penyesuaian durasi program, saluran komunikasi yang lebih kuat dan respons yang lebih cepat, serta perbaikan perencanaan dan waktu sosialisasi program.

Survei juga mencatat kesenjangan antara tingkat kebutuhan dan partisipasi dalam beberapa program strategis, terutama pada kolaborasi riset, hilirisasi, dan pengembangan bakat.

“Ke depan, Ditjen Riset dan Pengembangan akan terus menyempurnakan perencanaan, memperkuat layanan dan sosialisasi, serta memastikan program riset dan pengembangan menjadi lebih adaptif, inklusif, dan memberikan dampak nyata bagi perguruan tinggi, masyarakat, dan pembangunan nasional,” pungkas Fauzan Adziman.

Berita terkait: Indonesia tegaskan komitmen percepat kemandirian teknologi antariksa

Penerjemah: Sean Filo Muhamad, Primayanti
Editor: M Razi Rahman
Hak Cipta © ANTARA 2026

MEMBACA  Pemerintah Perluas Perlindungan untuk Anak dari Bahaya Deepfake

Tinggalkan komentar