loading…
Wacana boikot Piala Dunia 2026 mulai mencuat di Australia. Seorang pengamat kebijakan publik dan olahraga internasional, John Frew, beranggapan pemerintah dan federasi sepak bola Australia perlu pertimbangkan dengan serius makna politik dari keikutsertaan mereka dalam turnamen yang akan diadakan di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada itu.
Menurut Frew, ajang seperti Piala Dunia tidak pernah benar-benar netral dari kepentingan politik. Dia menekankan bahwa setiap negara tuan rumah mendapatkan legitimasi global melalui turnamen tersebut.
“Piala Dunia bukan cuma sekumpulan pertandingan. Ini adalah panggung dunia yang memberikan pengakuan dan status. Saat sebuah negara menjadi tuan rumah, dunia pada dasarnya bilang negara itu pantas untuk dirayakan,” ujar Frew dalam pandangannya yang diterbitkan jurnal kebijakan publik, Johnmenadue, minggu ini.
Frew menilai konteks politik Amerika Serikat mendekati 2026 membuat isu ini sulit diabaikan. Dia menyoroti kebijakan imigrasi yang ketat, meningkatnya nasionalisme politik, serta kritik dari berbagai kelompok masyarakat sipil internasional terhadap arah kebijakan Washington.
“Pertanyaannya bukan apakah olahraga itu politis. Olahraga internasional memang selalu berada dalam lingkungan kekuasaan. Pertanyaannya adalah, apakah Australia mau mengakui makna politik dari partisipasinya,” katanya.
Sorotan terhadap FIFA
Selain faktor tuan rumah, Frew juga mengkritik peran FIFA sebagai penyelenggara. Dia menyebut badan sepak bola dunia itu sering mengklaim netralitas, tapi rekam jejaknya dalam penentuan tuan rumah dan hubungan dengan elit politik menimbulkan tanda tanya.