Minggu, 8 Februari 2026 – 06.00 WIB
Jakarta, VIVA – Terbongkarnya kasus penculikan balita RZA di Tamansari, Jakarta Barat, membuka bab yang lebih menyeramkan lagi. Polisi menemukan ada kaitan antara kasus itu dengan penculikan Bilqis (4), anak dari Makassar yang sempat viral setelah ditemukan di pedalaman Jambi.
Baca Juga:
Kasus Mengejutkan: Dua Saudari Diculik Setelah Berkenalan Pria di Roblox
Kepala Unit Reskrim Polsek Metro Tamansari, AKP Egy Irwansyah, mengungkapkan bahwa sindikat perdagangan anak yang sedang diselidiki ternyata saling terhubung. Salah satu tersangka dalam kasus RZA, yaitu WN (50), yang berperan sebagai calo pembeli anak di Wonosobo, diketahui punya hubungan langsung dengan tersangka dalam kasus Bilqis.
Hubungan ini bukan kebetulan. Polisi memastikan keduanya pernah bertemu langsung dan bahkan pernah bersama-sama datang ke rumah WN di Jawa.
Baca Juga:
Pria Berjaket Ojol Culik Anak di Bekasi, Motifnya Asmara ke Orang Tua Korban
"Sebenarnya ini ada benang merahnya. W (WN) itu kenal juga sama tersangka yang di kasus Bilqis. Mereka pernah berdua ke rumahnya W di Jawa itu. Jadi memang ada hubungannya," kata Egy kepada wartawan, Minggu (8/2).
Dari pengembangan kasus, polisi memetakan jaringan perdagangan anak yang beroperasi lintas daerah, dari Jakarta, Jawa Tengah, sampai ke pedalaman Sumatera. Dalam rantai ini, tersangka EM berperan sebagai pengepul di Jambi dan yang meminta anak kepada WN.
Baca Juga:
WNI Diculik Bajak Laut di Gabon, RI Upayakan Penyelamatan
Permintaan itu, lanjut Egy, berasal dari LN (36), perantara yang menyalurkan anak-anak ke wilayah Suku Anak Dalam (SAD). Nama LN sendiri sudah dikenal penyidik karena sempat muncul dalam kasus Bilqis, meski waktu itu belum ditangkap.
"Permintaannya dari E. E dapatnya dari LN. Nah, inisial LN ini sebenarnya sudah lama muncul di kasus Bilqis. Cuma memang dulu belum diamankan," jelasnya.
Polisi juga mengungkap fakta lain yang mengejutkan. Jaringan dalam kasus RZA dan Bilqis sebenarnya berasal dari satu kelompok besar yang sama. Tapi, kelompok itu pecah karena konflik internal, diduga karena masalah pembagian uang.
"Dulu sebenarnya satu kelompok antara E dan yang di kasus Bilqis. Cuma mereka kemudian pisah, ada selisih paham gitu. Kayaknya karena masalah pembagian juga," ujar dia.
Halaman Selanjutnya
Menurut polisi, praktik perdagangan anak ini dijalankan seperti bisnis gelap biasa dengan sistem permintaan dan penawaran. Harga jual anak jadi semakin mahal seiring banyaknya perantara sampai ke pembeli terakhir.