WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) merilis studi tentang Dampak Ekonomi dari Subsidi Transjakarta.
Project Leader Kajian ini, Muhammad Halley Yudhistira Ph.D, menjelaskan hasilnya. Menurut studi, dari tahun 2015 sampai 2024, aktivitas Transjakarta telah menciptakan output ekonomi nasional sebesar Rp73,8 triliun. “Rp62,4 triliun diantaranya berada di DKI Jakarta,” jelas Halley.
Studi ini juga menemukan bahwa Transjakarta membantu penghematan biaya transportasi. Warga DKI Jakarta bisa menghemat sampai Rp174,4 ribu per bulan, sangkan warga di luar DKI bisa menghemat Rp245,5 ribu per bulan. Jumlah ini setara dengan pengeluaran untuk buah-buahan atau sekitar separuh dari konsumsi beras bulanan.
Selain itu, layanan Transjakarta menciptakan sekitar 32 ribu lapangan kerja setiap tahunnya. Bus ini juga membantu menurunkan kadar polutan berbahaya di udara, seperti PM₂.₅, CO, NO₂, dan SO₂.
Studi ini dirilis dalam sebuah forum di Aula MPKP FEB UI, Kampus UI Salemba. Forum ini dihadiri oleh berbagai pihak penting, seperti Suharini Eliawati (Asisten Perekonomian dan Keuangan Setda Provinsi DKI Jakarta), Nova Harian Paloh (Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta), Bambang Arianto (Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta), David Tjahyana (Advisor Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional), dan Fariz Egia Gamal (seorang content creator urbanisme yang mewakili suara pengguna Transjakarta). Hadir juga akademisi UI, perwakilan SKPD Pemprov DKI Jakarta, NGO, dan komunitas.
Di akhir forum, Halley Yudhistira menegaskan, “Transportasi adalah tulang punggung dan juga urat nadi perekonomian. Semakin baik transportasinya, semakin sehat urat nadinya, semakin kuat jantung perekonomian, dan aktivitas kota pun akan berjalan semakin lancar.”