Setelah BBM, Harga Buah dan Sayur Terancam Naik Akibat Perang Iran-AS-Israel

Minggu, 19 April 2026 – 10:25 WIB

Jakarta, VIVA – Konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) tidak cuma bikin harga bahan bakar melonjak, tapi juga berpotensi mendorong kenaikan harga bahan makanan dan sembako. Lonjakan harga minyak dunia mulai pengaruhi sektor pertanian, terutama lewat naiknya harga pupuk dan biaya distribusi.

Sejak perang mulai di akhir Februari 2026, harga minyak udah naik lebih dari 40 persen. Sebelumnya, harga minyak ada di kisaran US$65 per barel atau sekitar Rp1,1 juta per barel.

Kenaikan ini buat harga bensin di Amerika Serikat tembus lebih dari US$4 per galon atau sekitar Rp68.000 per galon. Sementara harga solar sudah lampaui US$5 per galon atau sekitar Rp85.000 per galon.

Tapi dampaknya nggak berhenti di harga BBM aja. Sekitar sepertiga suplai pupuk dunia lewat Selat Hormuz, jalur dagang penting yang sempat terganggu karena konflik Iran.

Walaupun Iran udah umumkan bahwa Selat Hormuz kembali dibuka penuh untuk lalu lintas komersial pada 17 April 2026, kekhawatiran soal kelangkaan pupuk dan kenaikan harganya masih tinggi, apalagi saat musim tanam mulai.

Dalam survei ke 5.700 petani, American Farm Bureau Federation nemuin sekitar 70 persen petani ngaku nggak mampu beli pupuk yang mereka butuhin karena harganya terus naik.

Pupuk termasuk salah satu biaya operasional terbesar di sektor pertanian. Harga gas alam sangat berpengaruh karena jadi bahan utama untuk produksi pupuk berbasis nitrogen seperti amonia dan urea.

Pas harga gas naik, biaya produksi pupuk ikut naik. Harga minyak yang lebih tinggi juga nambah biaya transportasi dan distribusi pupuk.

“Pupuk ada di hulu sistem pangan global, jadi ketika gangguan geopolitik menghantam pasar energi atau jalur pelayaran utama, dampaknya cepat banget masuk ke sektor pertanian,” kata CEO Phospholutions, Hunter Swisher, seperti dikutip dari Mind Your Money, Minggu, 19 April 2026.

MEMBACA  Raditya Dika Ungkap Nama Panggilan Teman Anaknya, dari Dae Yong sampai Jefferson

“Dampaknya udah mulai kerasa di tingkat petani. Mereka ambil keputusan langsung untuk musim tanam ini berdasarkan biaya produksi yang lebih tinggi dan nggak stabil,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Menteri Pertanian Amerika Serikat Brooke Rollins bilang sekitar 80 persen petani sebenernya udah amankan pasokan pupuk untuk musim tanam tahun ini sejak musim gugur lalu. Tapi pemerintah tetap berusaha bantu petani yang masih kesulitan.

Tinggalkan komentar