Jumat, 10 April 2026 – 09:56 WIB
Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan masih akan bergerak naik-turun. Namun, pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah diprediksi akan melemah.
Berdasarkan data Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika berada di level Rp 17.082 pada Kamis, 9 April 2026. Posisi ini melemah 73 poin dari posisi sebelumnya di Rp 17.009 pada hari Rabu.
Sementara itu, dalam perdagangan pasar spot pada Jumat pagi hingga pukul 09.02 WIB, rupiah ditransaksikan di Rp 17.083 per dolarnya. Posisi ini menguat tipis 7 poin dari posisi sebelumnya di Rp 17.090.
Ilustrasi mata uang Rupiah.
Foto: pixabay.com/WonderfulBali
Seorang pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026 sebesar 4,7 persen. Angka ini turun dari proyeksi sebelumnya yaitu 4,8 persen. Meski turun, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik yang hanya 4,2 persen.
Prospek ekonomi kawasan dipengaruhi oleh tiga faktor utama dari luar, yaitu konflik di Timur Tengah yang mendorong harga energi naik, pembatasan perdagangan di AS, serta perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI).
Sebelumnya, organisasi OECD juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 menjadi 4,8 persen, dari yang sebelumnya 5 persen. Revisi ini muncul di tengah tekanan global yang meningkat, terutama karena kenaikan harga energi dan ketegangan geopolitik.
Pesimisme dari Bank Dunia dan OECD ini berbeda dengan pandangan Pemerintah Indonesia yang lebih optimis. Pemerintah memproyeksikan ekonomi tahun 2026 bisa tumbuh kuat di kisaran 5,4 hingga 5,7 persen. Pertumbuhan ini diharapkan didorong oleh konsumsi dalam negeri, investasi, dan program biodiesel B50. Bahkan, ada optimisme pertumbuhan bisa mencapai 6 persen melalui transformasi struktural, dengan fokus pada kedaulatan pangan dan energi, kebijakan fiskal yang hati-hati, serta percepatan investasi untuk menjaga stabilitas.
“Mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif, namun akan ditutup melemah di rentang Rp 17.090 sampai Rp 17.140,” ujar Assuaibi.
Sebagai informasi, gangguan di Selat Hormuz masih berlanjut. Ketegangan geopolitik yang meningkat kembali di Timur Tengah mengaburkan prospek pasokan minyak global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat ini, dan aksesnya masih sebagian besar terhalang meskipun ada gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Pergerakan kapal sangat terbatas dan dikontrol ketat. Iran dinilai masih memegang kendali yang signifikan atas transit dan akses di selat tersebut.
Pergerakan kapal yang terbatas dan terkontrol ketat telah dilanjutkan, tetapi gangguan pengiriman tetap ada dengan Iran mempertahankan kendali signifikan atas transit dan akses.