RI Percaya Diri pada Stabilitas Fiskal di Tengah Risiko Konflik AS-Iran

Jakarta (ANTARA) – Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan ketegangan geopolitik global belum mengganggu stabilitas keuangan negara secara signifikan. Beliau menekankan ketahanan fiskal tetap terjaga meski ada peningkatan risiko dari konflik AS-Iran dan gejolak harga minyak.

Berbicara sebelum pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa, Purbaya mencatat dampak pertama konflik akan terlihat pada ekspor dan harga minyak global.

Dia menjelaskan bahwa pemerintah telah menghitung skenario untuk kenaikan harga minyak.

“Saya sudah hitung angkanya—bahkan jika minyak mentah mencapai $92 per barel, kita masih bisa mengelola anggaran. Jadi tidak ada masalah,” ujarnya.

Purbaya menekankan bahwa Indonesia memiliki ruang fiskal untuk menyesuaikan kebijakan jika kondisi memburuk.

Dia mengakui gangguan seperti penutupan Selat Hormuz bisa menaikkan biaya impor dan menekan defisit anggaran.

Untuk mengurangi risiko, pemerintah berencana memperkuat penerimaan negara, khususnya dari perpajakan dan bea cukai.

“Kita harus pastikan penagihan pajak dan bea cukai benar-benar ketat. Itu saja sudah mengurangi tekanan pada defisit,” tambahnya.

Setelah aliran penerimaan aman, pemerintah akan menilai dampak lebih lanjut dan menentukan langkah tambah jika diperlukan.

Meski ada ketidakpastian eksternal, Purbaya menyatakan keyakinan pada fundamental ekonomi Indonesia, menyoroti kekuatan permintaan domestik yang menyumbang sekitar 90 persen bagi PDB.

“Perekonomian kita masih bisa maju. Selama permintaan domestik terjaga, kita bisa bertahan,” katanya.

Penerjemah: Maria C, Fathur R, Raka Adji
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Hak Cipta © ANTARA 2026

MEMBACA  Perempuan di Ambon Dikeroyok Pacar, Video Intimnya Dibuarkan di Facebook

Tinggalkan komentar