Respons Kanselir Jerman Atas Ancaman Trump di Selat Hormuz: Bukan Wilayah Perang NATO

Senin, 16 Maret 2026 – 20:16 WIB

Para Menteri Luar Negeri Uni Eropa Bahas Selat Hormuz dan Desakan Trump

BRUSSELS – Menteri Luar Negeri negara-negara Uni Eropa mengadakan pertemuan di Brussels pada Senin ini. Mereka membahas upaya menjaga Selat Hormuz agar tetap terbuka, yang mereka anggap penting bagi kepentingan Eropa. Pertemuan ini juga menanggapi seruan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mendesak sekutu-sekutunya untuk berperan dalam memulihkan aktivitas pelayaran di selat strategis tersebut.

"Menjaga Selat Hormuz tetap terbuka adalah untuk kepentingan kita sendiri. Karena itu, kami mendiskusikan apa yang bisa kami lakukan terkait hal ini," ujar Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, kepada wartawan seperti dilansir CNN International.

"Dari sisi Eropa, kami telah berkomunikasi dengan rekan-rekan AS di berbagai level mengenai isu ini. Namun, situasinya tentu saja masih sangat tidak stabil," tambahnya.

Respons Jerman: "Ini Bukan Perang NATO"

Kanselir Jerman Friedrich Merz, melalui juru bicaranya Stefan Kornelius, menyatakan bahwa seruan Presiden Trump agar NATO membantu menjaga kelancaran pelayaran di Selat Hormuz bisa berakibat buruk bagi aliansi tersebut.

"Perang ini tidak ada hubungannya dengan NATO. Ini bukan perang NATO," tegas pernyataan dari pihak Kanselir.

Komentar ini muncul setelah Trump memberikan ancaman terselubung kepada NATO, dengan menyebut aliansi itu bisa menghadapi "masa depan yang sangat buruk." Pemerintah Jerman kembali menegaskan bahwa mereka tidak akan berpartisipasi dalam aktivitas apa pun di Selat Hormuz.

"Partisipasi tidak pernah dipertimbangkan sebelum perang dan tidak dipertimbangkan sekarang," jelas juru bicara pemerintah.

Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, yang juga berada di Brussels, menyatakan bahwa ia tidak melihat peran bagi anggota NATO di Selat Hormuz.

MEMBACA  Amerika Cabut Sanksi Minyak Rusia, Setara Pasokan 5-6 Hari dari Selat Hormuz

Merz diketahui telah memperkeras posisinya dalam beberapa hari terakhir, seiring perang dengan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Pekan lalu, ia mengkritik AS karena dinilai melonggarkan sanksi terhadap Rusia dan secara terbuka menyatakan tidak memahami rencana AS untuk mengakhiri perang.

Kornelius juga menyampaikan kepada wartawan bahwa sebelum perang, baik Amerika Serikat maupun Israel telah menyatakan bahwa bantuan dari Eropa tidak diperlukan maupun diinginkan.

Kanselir Merz dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Belanda, Rob Jetten, di Berlin hari ini. Kedua pemimpin ini kemungkinan akan menjawab pertanyaan mengenai respons mereka terhadap desakan dan tuntutan Presiden Trump.

Halaman Selanjutnya

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mendesak NATO untuk ikut mengirimkan bantuan kapal perang guna memulihkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Trump memperingatkan bahwa NATO akan menghadapi masa depan yang "sangat buruk" jika gagal membantu mengatasi krisis di selat tersebut.

Tinggalkan komentar