Presiden: Nasionalisme Jadi Bahan Bakar Pertumbuhan Ekonomi Jangka Panjang

Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa pertumbunan ekonomi yang berkelanjutan sangat bergantung pada mekanisme dukungan yang kuat dan komitmen bersama dari seluruh elemen bangsa terhadap nasionalisme.

“Sifat ekonomi modern adalah tidak maju atau berkembang dengan sendirinya. Pertumbuhan dirangsang dan dipertahankan oleh nasionalisme,” kata Subianto, mengutip teori ekonomi sosiolog Profesor Liah Greenfeld, di Bandar Lampung, pada Rabu.

Presiden Subianto menyampaikan pernyataan itu dalam Musyawarah Nasional ke-18 Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).

Menurutnya, prinsip tersebut sudah diadopsi oleh negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar. Ia mencontohkan sejarah kebangkitan ekonomi Jepang, Amerika Serikat, Eropa Barat, dan China, yang keberhasilannya dikaitkan dengan fondasi nasionalisme yang kuat.

Subianto juga mengingat sejarah pendirian HIPMI yang tidak terlepas dari semangat nasionalisme. Ia menilai HIPMI berperan besar dalam melahirkan pemimpin di komunitas nasional dan perekonomian.

Karena itu, Subianto mendorong para pengusaha muda untuk menumbuhkan jiwa patriotik dalam menjalankan bisnis mereka.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti arus keluar modal domestik ke pasar luar negeri yang sudah berlangsung puluhan tahun. Ia meminta para pengusaha untuk mengivestasikan keuntungan dan tabungan mereka di dalam negeri guna membantu masyarakat kurang mampu.

Presiden menilai nilai gotong royong ini adalah kunci kebangkitan nasional.

Lebih lanjut, Subianto juga menyampaikan target Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia pada tahun 2045 melalui penguatan industri dan pemanfaatan pasar dalam negeri secara mandiri.

Sebelumnya, pemerintah telah memberikan mandat kepada PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) untuk mengelola dan mengawasi secara tunggal transaksi ekspor komoditas sumber daya alam strategis, yang awalnya berfokus pada batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan ferroalloy.

MEMBACA  Persiapan Haji 2026 Hampir Rampung, Masuki Tahap Pemeriksaan Akhir

Langkah ini terutama untuk mencegah under-invoicing, transfer pricing, dan penyalahgunaan devisa hasil ekspor.

Tinggalkan komentar