Penyidik Bripda MS Dipercepat Besok, Kapolda Maluku: Kekerasan Tewaskan Pelajar Tak Dapat Ditoleransi

Ringkasan Berita:

Sidang etik untuk kasus oknum Brimob di Maluku dipercepat, dijadwalkan hari Senin (23/2). Sidang ini bentuk tanggung jawab atas meninggalnya siswa MTsN, Arianto Tawakal.

Seorang pakar, Reza Indragiri, mengkritik "mindset tempur" oknum Brimob yang memakai helm baja sebagai alat mematikan saat membubarkan balap liar.

Polri juga memfasilitasi pengobatan untuk kakak korban yang mengalami patah tulang.

WARTAKOTALIVE.COM – Polda Maluku mengambil tindakan tegas menanggapi tragedi meninggalnya Arianto Tawakal (14), siswa MTsN 1 Maluku. Ia diduga dianiaya oleh oknum anggota Brimob, Bripda Masias Siahaya (MS).

Sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) untuk pelaku dijadwalkan berlangsung hari ini, Senin (23/2/2026). Keluarga korban akan hadir langsung.

Kapolda Maluku, Irjen Pol Dadang Hartanto, menegaskan percepatan sidang ini menunjukkan komitmen institusi untuk menegakkan keadilan tanpa pandang bulu.

Baca juga: Siswa Madrasah Tewas Dihantam Helm Oknum Brimob, Pakar Soroti Mindset Tempur dan Kelalaian Komando

Penegasan Kapolda: Bukan Karena Tekanan Publik

Irjen Pol Dadang Hartanto membantah bahwa percepatan proses hukum ini karena desakan publik.

Menurut dia, tindakan kekerasan yang dilakukan anggota di lapangan adalah pelanggaran berat yang merusak nama baik polisi.

“Tidak ada tekanan. Kita sadar bahwa tindakan kekerasan itu tidak bisa ditolerir. Dari awal sudah saya perintahkan untuk dipercepat,” tegas Dadang di Ambon, Minggu (22/2/2026) malam.

Dia memastikan proses hukum akan berjalan transparan.

“Ini bentuk tanggung jawab hukum. Meskipun itu anggota kita, kita tidak akan diskriminatif dalam melakukan penindakan,” tambahnya.

Analisis Pakar: Soroti ‘Mindset Tempur’ Brimob

Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel, juga menyoroti keanehan dalam prosedur pembubaran balap liar di Tual.

Reza berpendapat penggunaan helm baja sebagai alat untuk melumpuhkan adalah kesalahan yang fatal.

MEMBACA  TWSE dan GrandTech Cloud Selenggarakan Forum IPO F2SU Asia untuk Tunjukkan Kekuatan Pasar Modal Taiwan

"Helm bukan alat untuk mengendalikan orang. Memakai helm untuk menghantam bagian vital seperti kepala bisa diklasifikasikan sebagai penggunaan kekuatan mematikan," jelas Reza.

Reza juga menyoroti kemungkinan kesalahan mindset paramiliter yang dibawa pelaku ke tugas melayani masyarakat.

Dia mendesak agar penyelidikan tidak berhenti pada pelaku saja, tapi juga sampai ke tingkat komandonya.

Tinggalkan komentar