Penurunan Testosteron Sejak Usia 25: Dampak pada Vitalitas dan Risiko Kesehatan Jantung

Sabtu, 17 Januari 2026 – 21:10 WIB

Jakarta, VIVA – Pembicaraan tentang kesehatan pria sekarang nggak cuma fokus pada performa seksual aja, tapi udah berkembang ke masalah kualitas hidup secara keseluruhan. Salah satu hal penting yang sering nggak diperhatikan adalah keseimbangan hormon, terutama testosteron. Hormon ini punya peran besar dalam metabolisme, kesehatan mental, sampai risiko penyakit kronis.

Baca Juga:
2 Game Online Ini Paling Disukai Pria dan Wanita Indonesia

Seiring bertambah umur, perubahan hormon bisa pengaruhi energi, kestabilan emosi, sampe cara berpikir. Kondisi ini sering nggak disadari karena prosesnya pelan dan gejalanya dikira cuma kelelahan biasa karena aktivitas sehari-hari. Scroll untuk tau lebih lanjut, yuk!

Data World Health Organization (WHO) dan Global Burden of Disease (GBD) ncatat, penyakit kardiovaskular (CVD) jadi penyebab 19,8 juta kematian di dunia pada 2022 atau sekitar 32 persen dari total kematian global. Sebanyak 85 persen di antaranya karena serangan jantung dan stroke.

Baca Juga:
Terungkap! Motif Pembunuhan Pria di TPU Bekasi, Ternyata 2 Pelaku Punya…

Founder Klinik Pratama Steros, dr. Ivonne Andriani Santoso, M.Biomed (AAM), jelaskan bahwa penurunan hormon testosteron punya kontribusi yang signifikan terhadap naiknya risiko penyakit tersebut.

“CVD bisa terjadi karena ada penurunan hormon testosteron yang nggak disadari kebanyakan pria,” kata dr. Ivonne saat grand opening Steros Men`s Health & Anti-Aging Clinic di Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Baca Juga:
Mengapa Pria Mengalami Klimaks Lebih Cepat? Ini Penjelasan Ustaz Khalid Basalamah

Menurut dia, testosteron bukan cuma hormon reproduksi, tapi juga pengaruhi metabolisme tubuh. Kadar testosteron yang rendah bisa menyebabkan naiknya lemak visceral, ganggu kolesterol dan gula darah, tekanan darah tinggi, serta peradangan kronis.

MEMBACA  Ganti Protein Powder dengan Clear Whey Protein untuk Hidrasi, Pemulihan, dan Pembentukan Otot

Dalam ruang diskusi yang sama, Androlog sekaligus seksolog Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And., Subsp.SAAM, tekankan bahwa proses penuaan sebenarnya berkaitan erat dengan perubahan hormon yang bisa mulai sejak usia yang relatif muda.

“Perubahan level hormon mulai terjadi di usia muda. Inilah yang jadi penyebab utama proses penuaan. Manusia jadi tua karena hormonnya berkurang, bukan sebaliknya,” jelas Prof. Wimpie.

Dia bedakan usia kronologis—berdasarkan tahun lahir—dengan usia fisiologis yang mencerminkan fungsi organ tubuh. Perbedaan antara keduanya bisa berdampak besar pada kesehatan dan kenyamanan hidup seseorang.

Menurut Prof. Wimpie, penyebab penuaan terbagi jadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal termasuk ketidakseimbangan hormon, radikal bebas, kerusakan DNA, sampai penurunan sistem imun. Sementara faktor eksternal meliputi pola hidup dan diet nggak sehat, kebiasaan buruk, paparan polusi, serta stres yang lama.

Halaman Selanjutnya

Secara medis, penurunan hormon pada pria terbagi jadi tiga fase. Fase subklinis terjadi di usia 25–35 tahun saat hormon mulai turun. Fase transisi terjadi pada usia 35–45 tahun ketika hormon berkurang sampe 25 persen. Sementara fase klinis terjadi di usia 45 tahun ke atas, dengan gejala yang lebih jelas.

Tinggalkan komentar