Pasar motor di Indonesia memang masih sangat besar, tapi tantangan di tahun 2026 justru berasal dari masalah kredit, pajak daerah, dan turunnya minat terhadap motor listrik. Foto: AISI
JAKARTA – Penjualan motor Indonesia pada 2025 mencapai 6,412,769 unit. Angka yang besar ini terdengar "aman", tetapi sebenarnya menyimpan tanda bahaya: daya beli masyarakat melemah, ketergantungan pada kredit semakin tinggi, dan penjualan motor listrik malah anjlok sampai 80 persen.
Di awal 2026, Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) merilis laporan penjualan sepeda motor sepanjang tahun 2025. Angka akhirnya adalah 6,412,769 unit yang terjual di pasar domestik. Pertumbuhan tahunannya adalah 1,3 persen (ada juga data tambahan yang menyebut 1,25 persen) – kecil, tapi tetap naik.
Di permukaan, ini adalah kabar baik. Tapi jika dianalisis lebih dalam, pertumbuhan yang kecil di tengah tekanan ekonomi menunjukan hal yang lebih kompleks: sepeda motor sekarang bukan cuma barang konsumsi, tapi sudah menjadi alat untuk bertahan hidup.
Ketua Bidang Komersial AISI, Sigit Kumala, mengatakan pasar 2025 relatif stabil karena industri bisa memenuhi kebutuhan masyarakat akan transportasi yang "efisien dan efektif".
Dia mengingatkan, proyeksi awal AISI adalah 6,4 juta sampai 6,7 juta unit, dan realisasinya tepat di batas bawah: 6,412,769 unit.
"Rata-rata penjualan sepeda motor domestik per bulannya ada di angka 535,000 unit. Ini menggambarkan bahwa sepeda motor sangat dibutuhkan karena efisien dan efektif untuk memenuhi kebutuhan ekonomi maupun untuk leisure dan gaya hidup masyarakat kita," kata Sigit.
Pernyataan ini penting, tetapi juga memunculkan kritik: ketika sepeda motor tetap laku saat ekonomi sulit, itu belum tentu bukti bahwa "pasar sehat".
Bisa jadi itu tanda bahwa transportasi publik belum cukup baik untuk memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat, sehingga motor tetap menjadi pilihan yang paling murah, praktis, dan kadang terpaksa.
Dominasi Skutik Semakin Mutlak: Pasar Semakin Seragam, Risiko Semakin Besar
Komposisi pasar di tahun 2025 menunjukan satu kecenderungan yang semakin ekstrem: skutik mendominasi 91,7% permintaan motor baru. Sisanya:
Underbone: 4,46%
Sport: 3,51%
Motor listrik: masih dibawah 1%
Jika industri motor ingin disebut "maju", seharusnya ada peningkatan keragaman produk. Yang terjadi justru sebaliknya: pasar semakin seragam ke skutik.