Jakarta (ANTARA) – Operasi pencarian dimulai kembali pada Kamis setelah banjir bandang yang bercampur material vulkanik dari Gunung Merapi surut di Magelang, Jawa Tengah, menurut badan bencana Indonesia.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa tim pencarian dan penyelamatan memulai kembali usaha mereka setelah permukaan air menurun menyusul banjir yang merusak awal pekan ini.
Juru Bicara BNPB Abdul Muhari mengatakan tim penolong telah menambah personel dan mengerahkan alat berat untuk mempercepat pencarian korban yang hilang.
Badan itu mengkonfirmasi bahwa dua warga dilaporkan hilang saat ini, meski pejabat memperingatkan angka ini bisa bertambah seiring penilaian tim terhadap skala kerusakan.
Muhari mengatakan banjir lahar terjadi Selasa setelah hujan deras mengguyur puncak Gunung Merapi dan lereng sekitarnya.
Hujan lebat itu memicu luapan Kali Senowo di Kecamatan Dukun, yang membawa aliran lumpur, abu vulkanik, dan material lainnya ke pemukiman di hilir.
Dua warga meninggal setelah terseret arus yang kuat. Korban, yang diidentifikasi sebagai Heru Setyawan (25) dan Arif Fuad Hasan (26), ditemukan oleh tim pencari tak lama setelah bencana.
BNPB juga melaporkan enam warga luka-luka dan sedang mendapatkan perawatan medis intensif.
Responden darurat terus memantau para korban luka sebagai bagian dari respon bencana yang berlangsung.
Penilaian awal oleh badan bencana daerah Magelang mencatat kerusakan infrastruktur yang signifikan.
Satu truk tersapu terbawa, dan satu jembatan runtuh sepenuhnya.
Tiga jembatan lainnya mengalami kerusakan struktur akibat aliran lumpur dan material yang bergerak cepat.
Pejabat mengatakan banjir ini berdampak pada delapan desa di Kecamatan Dukun, Sawangan, dan Mungkid di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.
Berita terkait: Gunung Merapi Indonesia menunjukkan peningkatan aktivitas, BNPB keluarkan peringatan
Berita terkait: Gunung Merapi Indonesia luncurkan 88 awan panas dalam seminggu
Penerjemah: M.Riezko BEP, Rahmad Nasution
Editor: Arie Novarina
Hak Cipta © ANTARA 2026