Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, bilang kalau insentif pajak untuk penulis bisa mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Caranya dengan mendorong lebih banyak orang untuk menulis dan menerbitkan buku.
Di Jakarta pada Selasa, Purbaya menjelaskan bahwa Indonesia masih kekurangan penulis terutama penulis ilmiah.
Menurutnya, insentif ini diharapkan bisa bikin lebih banyak orang tertarik menulis dan menerbitkan buku. Ujung-ujungnya, kualitas sumber daya manusia Indonesia bakal meningkat.
“Dampaknya mungkin gak langsung terasa, sih, tapi dalam jangka panjang. Satu atau dua tahun setelah buku terbit, pembaca mungkin jadi lebih berpengetahuan,” katanya.
Purbaya nambahin, pajak yang lebih rendah untuk penulis bisa mendorong terbitnya lebih banyak jenis buku, termasuk fiksi dan non-fiksi.
Kebijakan ini juga bakal bantu masyarakat dapetin sumber informasi yang lebih kredibel, daripada cuma ngandelin konten media sosial yang belum tentu benar, jelasnya lagi.
“Kami mau penulis Indonesia lebih aktif nulis karena beban pajak mereka jadi lebih kecil,” kata Purbaya.
Dalam paket stimulus ekonomi baru, pemerintah berencana nerapin tarif pajak penghasilan final sebesar 1,5 persen untuk penulis.
Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, bilang insentif ini merupakan bagian dari janji kampanye Presiden Prabowo Subianto.
Selain itu, pemerintah juga lagi nyiapin insentif transportasi, kayak diskon tiket pas liburan sekolah dan musim liburan Natal-Tahun Baru.
Program Magang Nasional juga bakal dilanjutkan. Gelombang keempatnya rencananya mulai Juli 2026, targetnya 150.000 peserta dengan anggaran Rp4,14 triliun (sekitar USD232 juta).
Ada juga program vokasi nasional yang targetnya 220.000 lulusan SMK dan 50.000 pekerja yang kena PHK, dengan dukungan anggaran Rp2,12 triliun.
“Semua ini diharap jadi penyokong aktivitas ekonomi di kuartal kedua,” kata Airlangga.