Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Pertahanan Indonesia mengatakan pada Kamis bahwa ancaman modern terhadap kedaulatan beralih ke "perang narasi" dan "perang hukum," yang bertujuan untuk memanipulasi opini publik dan melemahkan kepentingan nasional.
"Tujuan dari dua bentuk perang ini jelas: untuk mempengaruhi persepsi, menciptakan polarisasi, dan mencapai tujuan strategis yang merugikan kepentingan nasional," kata Wamen Donny Ermawan dalam sebuah pernyataan di Jakarta.
Berbicara dalam dialog publik pada Rabu bertajuk Defence Intellectual Community: Strengthening National Narratives and Structures for Sovereignty and National Welfare, Donny menyebut sektor perkebunan, yang diatur dalam UU No. 39 Tahun 2014, telah menjadi target utama intervensi asing.
Dia mencatat pentingnya sektor ini sebagai penyumbang utama penerimaan negara dan sumber lapangan kerja bagi jutaan orang, yang menghasilkan komoditas seperti kelapa sawit, karet, kakao, kopi, tebu, dan tembakau.
Berita terkait: Ancaman perang hibrida harus diantisipasi sedini mungkin
Profesor Satya Arinanto, dosen senior Fakultas Hukum Universitas Indonesia, mengatakan banyak organisasi non-pemerintah (LSM) telah digunakan sebagai alat pengaruh asing.
"Saya dulu memandang LSM sebagai pilar demokrasi. Tapi jenis LSM yang saya dukung adalah yang independen," kata Satya, seraya menambahkan bahwa banyak yang mengandalkan pendanaan dan agenda asing yang bertentangan dengan kepentingan nasional Indonesia.
Guru besar hukum lain di universitas tersebut, Hikmahanto Juwana, memperingatkan bahwa pihak asing dapat menyusup ke lembaga negara untuk menekan industri strategis.
Dia mencontohkan pelemahan sektor tembakau Indonesia melalui perjanjian dan kampanye global, termasuk tekanan pada Kementerian Kesehatan untuk mengadopsi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).
Wakil Ketua Komisi I DPR, Dave Laksono, mengatakan perang narasi sering mengeksploitasi isu global melalui platform komunikasi modern untuk melemahkan posisi Indonesia.
"Narasi negatif sering diciptakan untuk memecah belah. Kekuatan media dan narasi ini digunakan untuk menyerang lawan, baik di dalam negeri maupun global," kata Dave, yang juga menjabat Ketua Ikatan Alumni Universitas Pertahanan Indonesia.
Berita terkait: Perang siber, tantangan geopolitik menanti Panglima TNI
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2025