Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika Nezar Patria telah meminta eksplorasi model bisnis baru untuk industri media, mengingat dominasi yang semakin meningkat dari platform digital. “Untuk memastikan pers tetap kuat, sehat, dan melanjutkan peran demokratisnya, kita harus menemukan model bisnis inovatif,” katanya pada hari Minggu.
Pernyataan Patria tersebut menekankan kekhawatiran yang semakin meningkat tentang keberlanjutan bisnis media di Indonesia, dengan menyoroti potensi model alternatif, seperti upaya kolaboratif untuk melawan informasi yang salah di media sosial. “Teknologi yang muncul, seperti kecerdasan buatan, memberikan tantangan dan peluang,” tambahnya.
Menyambut Hari Kebebasan Pers Sedunia, ia menekankan perlunya jurnalisme berkualitas tinggi di tengah perubahan teknologi yang cepat. Ia mengulang komitmen pemerintah untuk menyeimbangkan hubungan antara jurnalisme berkualitas dan platform digital melalui Peraturan Presiden No. 32 tahun 2024. “Kami bertujuan untuk memastikan regulasi ini membantu media bertahan dalam lanskap digital saat ini,” jelasnya.
Ia juga menyatakan kekhawatiran tentang pemutusan hubungan kerja di industri media dan mendorong kepatuhan terhadap peraturan ketenagakerjaan yang ada. Industri media Indonesia menghadapi gelombang pemutusan hubungan kerja yang signifikan, dengan beberapa outlet besar mengurangi staf atau menutup operasi.
Kompas TV, misalnya, dilaporkan telah memberhentikan 150 karyawan dan menghentikan siaran TV tradisionalnya, beralih fokus ke platform digital. CNN Indonesia juga telah melakukan pemotongan sekitar 200 pekerjaan, memengaruhi divisi berita dan teknis.
Kelompok media lainnya juga telah menerapkan pengurangan tenaga kerja serupa, dengan alasan tekanan keuangan dan pergeseran preferensi audiens ke konten digital.
Berita terkait: Harapan tim tugas PHK akan melindungi pekerja media, kata menteri
Berita terkait: Perlu sinergi multi-pihak yang lebih baik di sektor pekerjaan: menteri
Translator: Pamela, Kenzu
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2025