Pemerintah Imbau Kewaspadaan Karhutla Menjelang Puncak Musim Kemarau

Jakarta (ANTARA) — Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengajak semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Ini disampaikan karena Indonesia diproyeksikan akan mengalami curah hujan terendah dalam 3 dekade pada tahun ini.

"Berdasarkan proyeksi BMKG, kita akan menghadapi musim kemarau panjang yg puncaknya terjadi pada Agustus-September 2026 dan baru berakhir pada November 2026," kata Nurofiq di Jakarta, Rabu, merujuk pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Menurutnya, curah hujan selama tujuh bulan kemarau, mulai April 2026, diprediksi kurang dari 100 mm per bulan. Sementara itu, suhu di Samudra Pasifik yang meningkat dapat memicu fenomena El Niño.

"Selain musim kering yang panjang, curah hujan kita akan menjadi yg terendah dalam 30 tahun," ujarnya.

Musim kemarau berkepanjangan berpotensi menurunkan muka air di lahan gambut, menyebabkan kekeringan serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan pada periode kritis.

Indonesia bukan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berisiko. Malaysia, Thailand, Vietnam, dan sebagian Myanmar, yang juga memiliki lahan gambut luas, terancam risiko kebakaran serupa, jelas Menteri.

Oleh karena itu, Nurofiq mendorong jajarannya dan pemangku kepentingan lain untuk mengintensifkan persiapan dan langkah mitigasi. Upaya itu dimulai dari modifikasi cuaca hingga kewaspadaan kebakaran hutan di provinsi-provinsi rentan.

Provinsi-provinsi tersebut adalah Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan.

Kementerian juga berencana meningkatkan operasi modifikasi cuaca di wilayah-wilayah itu, menerapkan pengelolaan air di lahan gambut untuk mengantisipasi dampak El Niño, serta melakukan pembuatan sekat kanal untuk konservasi air dan mitigasi risiko kebakaran.

"Operasi modifikasi cuaca telah menjadi protokol standar dalam menambah curah hujan dan menyediakan air di daerah kering," jelas Nurofiq.

MEMBACA  Minggu Brat Musim Panas Akan Dicatat dalam Sejarah Internet

Nurofiq menambahkan, pemerintah akan mengoptimalkan pemantauan muka air gambut hingga tingkat desa. Hal ini memungkinkan intervensi lebih awal ketika level air turun ke ambang berbahaya.

"Begitu muka air gambut mencapai 80 cm atau lebih rendah, kami akan berikan otorisasi kepada BMKG dan BNPB untuk melakukan operasi modifikasi cuaca," pungkasnya, merujuk juga pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Berita terkait:

Tinggalkan komentar