“Jakarta (ANTARA) – Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) Indonesia, Marwan Cik Asan, mendorong pemerintah untuk menyiapkan solusi untuk mengantisipasi dampak potensial dari kebijakan tarif yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump.
“Saya mendorong pemerintah untuk segera mengantisipasi dampak perang tarif ini, serta mencari solusi untuk mengurangi dampaknya,” katanya dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis.
Indonesia termasuk dalam daftar yang diumumkan oleh Trump pada hari Rabu, yang menjadikannya dikenakan tarif impor sebesar 32 persen.
Menurut anggota DPR tersebut, penerapan kebijakan tarif ini berpotensi mempengaruhi dinamika perdagangan internasional dan berdampak signifikan pada ekonomi Indonesia.
Asan menyatakan bahwa kebijakan Trump ini telah menimbulkan kekhawatiran bagi ekonomi Indonesia karena dapat memengaruhi nilai tukar rupiah, harga emas, dan neraca perdagangan Indonesia dengan AS.
Dia menyoroti bahwa berbagai produk ekspor utama Indonesia seperti mesin dan peralatan listrik, pakaian, lemak dan minyak nabati, alas kaki, dan produk perikanan mungkin kehilangan daya saing di pasar AS karena tarif impor yang lebih tinggi.
“Kenaikan tarif ini akan membuat harga barang dari Indonesia menjadi lebih mahal di pasar AS, yang berpotensi mengurangi daya saing produk-produk tersebut,” jelasnya.
Namun, dia mencatat bahwa penelitian yang dilakukan oleh Economist Intelligence Unit (EIU) memperkirakan bahwa Indonesia mungkin menghadapi dampak kebijakan Trump yang kurang parah dibandingkan negara-negara Asia-Pasifik lainnya seperti Tiongkok, Jepang, dan Vietnam.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa sementara Amerika Serikat mengalami defisit perdagangan dengan Indonesia sebesar US$11,97 miliar dan US$16,08 miliar pada tahun 2023 dan 2024, ini lebih kecil dari defisitnya dengan Tiongkok, Jepang, dan Vietnam.
Untuk mengatasi tantangan ini, Asan menyarankan pemerintah mengadopsi langkah-langkah strategis untuk mengurangi dampak negatif dari kebijakan tarif balas AS, seperti diversifikasi pasar ekspor dan mengurangi ketergantungan pada AS dengan memperluas hubungan perdagangan dengan negara-negara lain.
Selain itu, insentif pajak dan kebijakan subsidi dapat diberikan kepada industri yang terkena dampak untuk meningkatkan daya saing dan menjaga stabilitas sektor manufaktur.
Di sektor keuangan, Asan menekankan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui kebijakan moneter yang adaptif.
Asan menyarankan agar Bank Indonesia mengoptimalkan cadangan devisa dan menerapkan kebijakan intervensi pasar untuk mengendalikan volatilitas yang berlebihan.
“Dalam forum bilateral, pemerintah Indonesia juga dapat bernegosiasi dengan AS untuk memperoleh pengecualian tarif untuk beberapa produk ekspor utama atau memperbaharui program Generalized System of Preferences (GSP) untuk menjaga akses preferensial ke pasar AS,” katanya.
Dia mengamati bahwa risiko yang ditimbulkan oleh kebijakan Trump dapat dikelola dengan efektif melalui langkah-langkah mitigasi yang tepat meskipun mereka memperkenalkan tantangan baru bagi ekonomi Indonesia.
“Dengan pendekatan, termasuk diversifikasi pasar, kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif, serta diplomasi perdagangan proaktif, saya yakin bahwa Indonesia dapat menjaga stabilitas ekonomi dan pertumbuhan di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompleks,” katanya.
Berita terkait: Siap mengantisipasi dampak kebijakan tarif AS, kata pemerintah
Berita terkait: Mulyani memperingatkan dampak ASEAN yang lebih luas dari kebijakan tarif impor Trump
Translator: Fianda Sjofjan, Resinta Sulistiyandari
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2025″