Jakarta (ANTARA) – Kementerian Kesehatan telah mengimplementasikan program Skrining Kesehatan Gratis (CKG) di 202.284 sekolah, madrasah, dan pesantren di seluruh Indonesia, mencapai 71 persen dari target.
Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat kementerian, Maria Endang Sumiwi, mengatakan pada Jumat bahwa program ini sejauh ini telah mencakup sekitar 25 juta siswa, atau 49 persen dari target, di 38 provinsi.
“Satu dari lima anak dan remaja usia sekolah memiliki tekanan darah di atas kisaran normal. Sementara level normal adalah 120/80, kami menemukan banyak yang sudah memiliki hipertensi atau pra-hipertensi,” ujarnya, menguraikan masalah kesehatan yang ditemukan dalam skrining.
Menurut Sumiwi, kondisi ini meningkatkan risiko masalah kesehatan yang lebih serius di kemudian hari. Dia menekankan perlunya mengurangi asupan garam berlebihan, terutama dari makanan olahan dan camilan, sebagai tindakan pencegahan.
Skrining juga menemukan bahwa sejumlah signifikan anak mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, memengaruhi sekitar tujuh dari setiap 100 anak.
“Kombinasi tekanan darah tinggi, gizi berlebih, dan obesitas secara signifikan meningkatkan risiko terkena penyakit kronis di masa depan,” katanya.
Sumiwi mencatat bahwa kementerian juga mengidentifikasi masalah kesehatan terkait telinga pada 26 dari setiap 100 anak, mulai dari infeksi hingga gangguan pendengaran, yang dapat memengaruhi kualitas hidup mereka secara keseluruhan.
Dia menambahkan bahwa satu dari empat remaja ditemukan mengalami anemia. Untuk mengatasi masalah ini, dia menekankan pentingnya diet seimbang dan mengatakan suplementasi zat besi diperlukan, terutama bagi remaja putri, untuk meningkatkan kadar zat besi.
Selain itu, dia menyebutkan 47 persen anak dan remaja usia sekolah mengalami masalah gigi, termasuk gigi berlubang yang disebabkan oleh kebiasaan menyikat gigi yang buruk dan konsumsi gula berlebihan. Dia merekomendasikan pemeriksaan gigi rutin setiap enam bulan.
Pemerintah Indonesia meluncurkan program CKG pada 10 Februari 2025, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Dengan target menjangkau seluruh populasi sekitar 280 juta orang, inisiatif skrining kesehatan ini termasuk salah satu program kesehatan terbesar di dunia dan berdasar pada prinsip tidak meninggalkan siapa pun.
Layanan skrining kesehatan awalnya dimulai di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) untuk masyarakat umum, sebelum diperluas ke sekolah pada 4 Agustus 2025, untuk langsung menjangkau siswa.
Berita terkait: Prabowo promosikan CKG sebagai kebijakan penghematan anggaran di WEF
Berita terkait: Jakarta: 3 persen dewasa tunjukkan kemungkinan depresi dalam skrining gratis
Penerjemah: Mecca Yumna, Raka Adji
Editor: Primayanti
Hak Cipta © ANTARA 2026