Pemerintah Dorong Importir Kedelai Tekan Kenaikan Harga

Jakarta (ANTARA) – Menteri Pertanian Indonesia menyerukan kepada importir pada Selasa untuk menghindari kenaikan harga kedelai yang berlebihan. Beliau memperingatkan bahwa biaya yang meningkat dapat mengancam stabilits pangan dan membebani konsumen.

“Kami minta semua importir jangan menaikkan harga kedelai terlalu tinggi. Mari kita jaga stabilitas harga pangan dan tunjukan empati pada masyarakat,” kata Menteri Andi Amran Sulaiman di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

Ia menyoroti tekanan yang meningkat pada produsen tahu dan tempe, karena harga kedelai yang lebih tinggi mulai mempengaruhi usaha skala kecil dan bahan pokok makanan rumah tangga.

Produsen di Bekasi, Jawa Barat, kesulitan untuk bertahan karena guncangan harga global mendorong naiknya biaya kedelai impor dan kemasan, sehingga mempersempit margin keuntungan yang sudah tipis.

Banyak produsen kecil telah merespons dengan mengecilkan ukuran produk dan mengurangi tenaga kerja, yang mencerminkan dampak lebih luas dari volatilitas pasar global terhadap makanan sehari-hari.

Sulaiman mengatakan pemerintah masih meneliti penyebab di balik kenaikan harga kedelai domestik dan akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menentukan langkah intervensi yang tepat.

“Kami sedang menyelidiki penyebabnya dan akan segera berkoordinasi dengan direktorat jenderal terkait,” ujarnya.

Untuk beras, menteri mengatakan cadangan nasional telah mencapai level tertinggi yang pernah dicatat, memberikan penyangga terhadap potensi guncangan pasokan.

“Stok kami saat ini berada di 4,6 juta ton. Kami perkirakan akan mencapai 5 juta ton pada April, level tertinggi dalam sejarah,” katanya.

Dia mencatat bahwa cadangan beras di tahun-tahun sebelumnya biasanya berkisar antara 1,5 juta hingga 2 juta ton pada April, yang menunjukkan bahwa level saat ini telah lebih dari dua kali lipat.

Pemerintah juga telah menyiapkan langkah-langkah kontingensi untuk mengurangi dampak dari potensi kekeringan berkepanjangan yang terkait dengan fenomena El Nino.

MEMBACA  Pemerintah AS Mengawasi Ketat Praktek Pembelian Kembali oleh Pengembang Seiring Jumlah Pembangunan Rumah Tertendah dalam Lima Tahun

Selain proyeksi stok gudang sebesar 5 juta ton, Sulaiman menyebutkan ada 12,5 juta ton di sektor hotel, restoran, dan katering, bersama dengan 11 juta ton dalam bentuk tanaman yang masih tumbuh.

“Itu membuat total ketersediaan menjadi sekitar 28 juta ton, yang cukup untuk 10,7 hingga 11 bulan ke depan,” jelasnya.

Berita terkait: Indonesia berkomitmen capai swasembada kedelai : Menteri

Berita terkait: Produsen tahu dan tempe Indonesia kesulitan di tengah guncangan harga global

Penerjemah: Aditya Ramadhan/Fathur Rochman, Resinta S
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar