Jakarta (ANTARA) – Dengan batas waktu negosiasi tarif timbal balik pada 8 Juli 2025 semakin dekat, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan optimis akan hasil positif dari pembicaraan antara Indonesia dan Amerika Serikat sejauh ini.
“Kami masih menunggu respons Amerika; belum ada kesepakatan yang tercapai. Kita perlu bersabar karena negara lain juga belum mencapai kesepakatan,” katanya di sini pada Rabu.
Optimismenya didasarkan pada fakta bahwa perdagangan antara Indonesia dan AS saling menguntungkan. “Kita saling membutuhkan. Amerika membutuhkan kita, dan kita juga membutuhkan mereka untuk pasar mereka,” jelas menteri itu.
Santoso menekankan bahwa AS adalah kontributor terbesar surplus neraca perdagangan Indonesia, dengan nilai mencapai US$7,08 miliar, disusul India (US$5,30 miliar) dan Filipina (US$3,69 miliar).
Untuk mempertahankan surplus ini, Kementerian Perdagangan sedang mengidentifikasi komoditas potensial yang bisa ditawarkan untuk ekspor ke AS, katanya.
Namun, jika proses diplomatik nanti tidak menghasilkan hasil yang menguntungkan bagi Indonesia, pemerintah siap menyusun strategi untuk mengurangi dampaknya pada ekonomi nasional.
“Kami melihat perubahan terus terjadi dalam perang dagang AS, jadi kita harus mengantisipasinya. Kami siap menghadapi perubahan yang mungkin terjadi,” tambah Santoso.
Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah sedang menunggu tanggapan atas negosiasi tarif timbal balik dengan AS.
“Indonesia telah menyerahkan penawaran kedua yang diterima oleh United States Trade Representative (USTR) dan telah direview,” ujarnya pada Rabu.
“Indonesia juga menawarkan mineral kritis agar AS dan Danantara bisa berinvestasi bersama dalam ekosistem mineral kritis,” tambahnya.
Batas waktu negosiasi tarif adalah 8 Juli, atau 90 hari setelah Presiden Trump mengumumkan tarif timbal balik pada mitra dagang AS awal April 2025.
Pemerintah AS membenarkan tarif tersebut, menyatakan bahwa itu akan membantu menyeimbangkan perdagangan dengan mitra dagang. Indonesia dikenakan tarif timbal balik 32% oleh pemerintahan Trump.
Berita terkait: Indonesia proposes second best offer on reciprocal tariffs to US
Berita terkait: Prabowo confirms Trump’s call amid trade tensions
Berita terkait: RI Govt says April trade surplus down due to Trump tariffs
Penerjemah: Maria Cicilia G, Nabil Ihsan
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2025