Peluncuran Busana Etnik Maluku: Menampilkan Warisan Budaya Lokal

Ambon, Maluku (ANTARA) – Fransina Sarah Latumahina, seorang akademisi di Universitas Pattimura Ambon, memperkenalkan budaya Maluku ke khalayak lebih luas lewat fesyen etnik yang menampilkan motif, simbol, dan nilai-nilai tradisional lokal.

“Kami meluncurkan merek fesyen etnik lokal, Azael Collection, sebuah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dijalankan oleh perempuan-perempuan Maluku,” ujarnya di Ambon pada hari Jumat.

Sebagai dosen di Fakultas Pertanian Unpatti, Fransina menggabungkan dunia akademik dengan praktik ekonomi kreatif. Ia memanfaatkan fesyen untuk memperkenalkan identitas budaya Maluku sekaligus memberdayakan komunitas lokal, khususnya perempuan dan pengrajin daerah.

“Pendidikan tinggi punya tanggung jawab moral untuk menumbuhkan kesadaran kritis dan mendukung konteks lokal, termasuk kelompok marginal dan perempuan,” katanya.

Melalui Azael Collection, ia memadukan motif, simbol, dan nilai budaya Maluku dengan desain modern. Setiap produk tidak hanya menawarkan keunikan visual, tetapi juga bercerita tentang identitas lokal, sejarah, serta peran perempuan dalam melestarikan warisan budaya.

Produk fesyen etniknya telah sampai ke kota-kota besar di Indonesia dan bahkan telah dipamerkan di luar negeri, termasuk pameran tahun 2025 di Darwin, Australia.

Fransina memandang UMKM bukan hanya sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai strategi budaya dan sosial untuk menjadikan budaya Maluku sebagai aset ekonomi yang berkelanjutan.

“Kami ingin membuktikan bahwa budaya Maluku tidak hanya layak dilestarikan, tapi juga bisa menjadi sumber ekonomi yang bersaing secara nasional dan global,” ujarnya.

Proses produksi melibatkan pengrajin lokal, terutama perempuan, sehingga memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat.

“Fesyen adalah ruang ekspresi budaya sekaligus pemberdayaan. Ketika perempuan dan pengrajin lokal diberi kesempatan, ekonomi lokal pun tumbuh,” tambahnya.

Ke depanya, ia berkomitmen untuk mengembangkan desain, memperluas jaringan pasar, dan menjaga nilai-nilai budaya sebagai identitas inti merek tersebut.

MEMBACA  Pendaftaran PPPK 2024, Momen 30 Agustus Ditunggu Oleh Jutaan Honorer

“Harapan kami sederhana: merek ini akan terus menjembatani budaya Maluku dengan dunia dan menciptakan lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat lokal,” pungkasnya.

Berita terkait: Papalele: Simbol ketangguhan perempuan, kini jadi warisan budaya Maluku

Berita terkait: Ekspor fesyen Indonesia tumbuh 4,56% jadi US$6,5 miliar: Kementerian

Penerjemah: Ode DLAZ, Rahmad Nasution
Editor: Primayanti
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar