Sudah hampir tiga bulan berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda Sumatra Barat. Kenangan penuh duka masih menyelimuti masyarakat, terutama mereka yang kehilangan anggota keluarga dalam bencana tersebut.
Secara bertahap, warga telah mulai bangkit dari kesulitan yang menghantam kampung halaman mereka. Namun, bayangan dan ingatan akan air bah yang menghancurkan masih terukir di dalam pikiran mereka.
Pesmi Ermi, seorang penghuni hunian sementara yang dibangun di SD Negeri 05 Kayu Pasak, Desa Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, merasakan cobaan yang sama. Ibu paruh baya dengan empat anak ini masih berduka.
Kehilangan harta benda atau mata pencaharian bukanlah alasan ia sering terlihat menyendiri. Kesedihannya berakar dari harus menerima kenyataan pahit bahwa pada Ramadhan tahun ini, ia tidak lagi bisa berbagi santap sahur dan buka puasa bersama putrinya, yang terseret banjir bandang pada akhir November 2025.
Mengenang hal itu, katanya, membawa kesedihan yang mendalam. Anak keduanya baru saja menikah selama tiga bulan sebelum bencana terjadi. Dukanya semakin dalam karena kepergian putrinya itu juga disertai kehilangan cucu yang belum lahir, yang masih berusia tiga bulan dalam kandungan.
Perempuan yang suaminya berasal dari Madura, Jawa Timur ini menyadari, sangat sulit untuk berpura-pura bahagia di tengah kondisi pascabencana.
“Di hari-hari awal di hunian sementara, saya sering duduk terdiam dan tiba-tiba menangis teringat anak saya, yang sedang hamil tiga bulan, terseret banjir bandang,” kenangnya.
Ramadan Tiba
Menyambut bulan suci Ramadhan, Ermi, yang merupakan pengajar mengaji di sebuah taman pendidikan Al Quran di Desa Salareh Aia, perlahan-lahan berusaha pulih.
Dia mengatakan dirinya menyibukkan diri untuk mengusir ingatan-ingatan yang sering terlintas di pikirannya. Pada suatu titik, ia berpikir untuk memulai usaha di hunian sementara tempat ia tinggal sekarang.
Berwirausaha bukanlah hal baru bagi Ermi dan suaminya, Suparmanto. Pasangan ini telah berdagang selama bertahun-tahun. Kini, ia memulai kembali aktivitas ekonomi dari nol dengan menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti makanan ringan, gas elpiji, umbi-umbian, ikan lele asap, minuman kaleng, kacang-kacangan, dan lain-lain.
“Awalnya, saya mulai berdagang di hunian untuk menghilangkan stres, tapi saya sadar ini juga untuk membiayai pendidikan anak-anak saya,” ujarnya.
Untuk modal awal, ia menggunakan tabungannya dan sebagian uang yang dikirimkan kerabat dari Jawa. Meski penjualannya tidak sebesar sebelum bencana, pemasukan itu telah mendorongnya untuk bangkit kembali.
Di awal usahanya, ia dan suaminya pergi ke kawasan Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, untuk membeli mesin parut kelapa, mengingat belum ada warga yang berjualan kelapa parut di hunian.
Selain untuk menyibukkan diri, berdagang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai anak-anaknya, yang satu masih duduk di bangku SMP dan satu lagi kuliah di sebuah universitas negeri di Kota Padang.
Dia mengatakan bahwa ia paham jika hanya mengandalkan bantuan dari orang lain atau pemerintah, impiannya untuk membuat anak-anaknya sukses tidak akan pernah terwujud.
Tidak hanya antusias menjalankan usaha warung kecil, perempuan itu juga bersemangat menyambut bulan Ramadhan.
Dia dan suaminya bahkan menyempatkan waktu untuk menyaksikan Sidang Itsbat yang digelar Kementerian Agama pada Selasa (18 Februari) malam di televisi.
Ermi mengatakan ia merasa bahagia menyambut Ramadhan, meski tidak pernah menyangka akan menjalani puasa di hunian tanpa kehadiran putrinya, yang menjadi korban banjir bandang.
“Mungkin ini ujian dari Tuhan. Kita harus sabar dan kuat menghadapinya,” katanya.
Begitu pula dengan Evi, seorang pedagang dan warga hunian sementara SD Negeri 05 Kayu Pasak, mengaku telah berjualan selama 10 hari terakhir. Ia dan suaminya memutuskan menarik Rp6 juta hingga Rp7 juta dari tabungan mereka sebagai modal usaha.
“Sebelum bencana, kami sudah berjualan kebutuhan sehari-hari. Sekarang, sejak tinggal di hunian, kami lanjutkan lagi dagangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Bagi Evi, pasrah pada keadaan bukanlah pilihan. Meski mengaku masih trauma dengan bencana akhir tahun lalu, hidup harus terus berjalan dan diperjuangkan.
Perjuangan Pesmi dan Evi dalam menjalankan usaha di hunian tidak hanya mengajarkan tentang semangat dan ketekunan. Lebih dari itu, yang mereka lakukan menegaskan kembali bahwa jiwa dagang orang Minangkabau tak pernah pudar, bahkan di tengah kesedihan.
Hunian sementara SD Negeri 05 Kayu Pasak di Kecamatan Palembayan diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian pada 24 Januari 2026.
Di kawasan tersebut, pemerintah telah membangun 117 hunian sementara untuk mempercepat pemulihan pascabencana.
Berita terkait: Indonesia funds Aceh’s meugang beef tradition for disaster victims
Berita terkait: BNPB speeds up temporary housing construction in Aceh before Ramadan