Jumat, 27 Maret 2026 – 09:31 WIB
Jakarta, VIVA – Pasar saham Asia-Pasifik turun tajam pada pembukaan perdagangan hari Jumat. Ketidakpastian mengenai prospek perjanjian damai di Timur Tengah dan pernyataan yang saling bertentangan dari Amerika Serikat dan Iran memicu gejolak di pasar keuangan global.
Presiden AS, Donald Trump, memperpanjang batas waktu selama 10 hari hingga 6 April 2026 terkait penundaan rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Menurut Trump, jeda ini memberikan waktu lebih banyak untuk negosiasi.
Trump menyatakan, perpanjangan waktu dilakukan atas permintaan pemerintah Iran. Ia menambahkan, ‘kelonggaran’ diberikan sebagai imbalan untuk 10 kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz sebagai “hadiah” dari Teheran.
“Sesuai permintaan Pemerintah Iran, pernyataan ini berfungsi sebagai isyarat bahwa saya menghentikan sementara rencana penghancuran Pembangkit Energi,” tulis Trump dalam postingan di Truth Social seperti dikutip CNBC Internasional.
Dalam beberapa hari terakhir, Washington telah memberi sinyal keinginannya untuk mengakhiri perang lewat negosiasi dan menegaskan sedang melakukan perundingan damai dengan Iran. Namun, pihak Iran menyangkal sedang melakukan pembicaraan langsung dengan AS.
Iran dilaporkan menolak proposal 15 poin dari AS dan menawarkan syarat-syarat mereka sendiri. Salah satunya adalah jaminan bahwa AS dan Israel tidak akan melanjutkan serangan serta pengakuan atas otoritasnya di Selat Hormuz.
Pasar Korea Selatan memimpin penurunan di kawasan Asia. Indeks Kospi anjlok 3,6 persen dan indeks Kosdaq turun 2 persen.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 tergerus 1,6 persen. Sementara indeks Topix turun 0,8 persen. Indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0,42 persen pada awal perdagangan. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,2 persen dan indeks CSI 300 Tiongkok kehilangan 0,4 persen.