Senin, 5 Januari 2026 – 13:34 WIB
Seoul, VIVA – Industri mobil di Asia sedang memasuki babak baru yang seru untuk diikuti. China, yang dulu dikenal sebagai “pabrik dunia”, kini mulai sejajar bahkan menantang negara-negara yang lebih dulu maju dalam hal teknologi.
Baca Juga:
Trump Yakin Serangan AS ke Venezuela Tak Pengaruhi Hubungan dengan Xi Jinping
Perubahan ini juga dirasakan oleh Korea Selatan, salah satu pemain besar di industri otomotif global. Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung secara terbuka mengakui bahwa China sekarang sudah bisa mengejar, bahkan melebihi negaranya dalam beberapa bidang teknologi dan modal.
Dulu, kerja sama industri antara China dan Korea Selatan punya pola yang jelas. Korea Selatan yang menyumbang teknologi dan modal, sedangkan China menyediakan tenaga kerja dan pabrik berkapasitas besar.
Baca Juga:
Serang dan Tangkap Presiden Venezuela Maduro, China Sebut AS Berlagak Seperti ‘Polisi Dunia’
Sekarang, keadaan itu tidak sepenuhnya berlaku lagi. Dilansir VIVA Otomotif dari Carnewschina, Senin 5 Januari 2026, kemajuan pesat industri China membuat hubungan kedua negara berubah menjadi lebih seimbang dan sekaligus lebih kompetitif.
Perubahan ini paling terlihat di sektor mobil dan kendaraan listrik. China kini adalah produsen dan pengekspor mobil listrik terbesar di dunia, dengan merek-merek lokalnya yang makin agresif masuk ke pasar global.
Baca Juga:
Angka Kelahiran Korea Selatan Kian Parah, 4.000 Sekolah Tutup dan Ribuan Guru Kena PHK
Di sisi lain, Korea Selatan masih memegang peran penting di industri otomotif dunia. Negara ini kuat di bidang suku cadang, elektronik mobil, dan teknologi baterai yang digunakan banyak produsen global.
Soal baterai, persaingannya makin menarik. Perusahaan China unggul dalam membuat baterai yang lebih murah dan menguasai bahan bakunya, sementara Korea Selatan fokus pada baterai berteknologi tinggi dengan performa lebih bagus.
Masuknya baterai murah dari China membuat persaingan semakin ketat. Produsen Korea Selatan pun harus mencari cara supaya tetap bisa bersaing di pasar mobil listrik yang terus berkembang.
Tidak hanya mesin dan baterai, persaingan juga masuk ke "otak" mobil. Produsen China semakin cepat menghadirkan fitur canggih seperti sistem bantuan pengemudi dan kecerdasan buatan, bahkan di mobil kelas menengah.
Kondisi ini memaksa produsen Korea Selatan untuk mempercepat pengembangan mobil berbasis perangkat lunak. Investasi besar-besaran dikeluarkan agar tidak ketinggalan dalam perlombaan teknologi mobil masa depan.
Duel Panas Hyundai Creta Active vs Venue: Pilih Mesin Turbo atau Kabin Lega?
Duel Panas Hyundai Creta Active vs Venue: Pilih Mesin Turbo atau Kabin Lega?
PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) menawarkan pilihan yang beragam untuk konsumen SUV kompak, dengan menghadirkan Creta varian Active dan Venue.
VIVA.co.id
5 Januari 2026