Orang Basudara: Laboratorium Hidup Perdamaian di Tanah Rempah

Sabtu, 14 Februari 2026 – 05:02 WIB

VIVA – Istilah ‘Orang Basudara’ bukan cuma ungkapan persaudaraan saja, tetapi sebuah filosofi hidup yang diwariskan turun-temurun di masyarakat Maluku. Mereka hidup dalam keberagaman suku, agama, dan budaya. Nilai ini jadi fondasi sosial yang menjaga kerukunan di wilayah yang sejak dulu dikenal sebagai ‘Surga’ Rempah-rempah.


Maluku Perkuat Literasi Keagamaan Lintas Budaya, Sekolah Didorong Jadi Ruang Tumbuh Toleransi

Konsep Orang Basudara datang dari kearifan lokal yang menempatkan hubungan kemanusiaan diatas semua perbedaan identitas. Masyarakat memandang perbedaan sebagai kekuatan bersama, bukan ancaman. Nilai ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti tradisi gotong royong, saling jaga saat hari raya keagamaan, sampai solidaritas waktu ada bencana.

Gak berlebihan kalau banyak tokoh dan ahli menyebut Maluku sebagai “laboratorium hidup perdamaian” karena masyarakatnya berhasil menjaga rekonsiliasi setelah konflik sosial di awal tahun 2000-an.


Istana Sebut 8.000 Pasukan Disiapkan untuk Misi Perdamaian di Gaza

Proses penyembuhan ini tidak cuma lewat kebijakan resmi, tetapi juga dengan pendekatan budaya yang tekankan persaudaraan. Misalnya, tradisi *pela gandong* yang mengikat desa-desa dengan agama berbeda dalam ikatan keluarga yang kuat.

Di Ambon dan sekitarnya, semangat Orang Basudara sering kelihatan di ruang publik. Komunitas pemuda dari berbagai agama aktif mengadakan dialog, kegiatan seni, sampai aksi sosial bersama. Sekolah dan kampus juga mulai memasukkan nilai toleransi berdasarkan kearifan lokal ke dalam pendidikan karakter.


Media Israel Sebut RI Akan Jadi Negara Pertama Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

Sekda Provinsi Maluku Sadali Le di seminar LKLB di Kota Ambon, Kamis, 12/2

Semangat membangun perdamaian dengan menjaga kearifan lokal ini juga yang ingin dikembangkan lewat pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) dari Institut Leimena, bekerja sama dengan lembaga pendidikan dan keagamaan di Maluku.

MEMBACA  Generasi Gambar ChatGPT Kini Gratis untuk Semua Orang

Tokoh masyarakat menilai, menjaga semangat perdamaian ini jadi tantangan di era digital, di mana informasi menyebar cepat dan sering bikin polarisasi. Makanya, generasi muda harus terus diajak untuk paham warisan leluhur yang luar biasa ini, yaitu semangat hidup “Orang Basudara” sebagai jati diri. Perbedaan agama dan suku seharusnya jadi perekat, bukan pemisah, dan jangan gampang terprovokasi isu yang memecah belah.

“Tantangan zaman menuntut kita untuk tidak cuma hidup berdampingan dan saling paham, tapi yang paling penting saling menghargai. Di sinilah peran penting Literasi Keagamaan Lintas Budaya, dan ini adalah kunci karakter hidup ‘Orang Basudara’ yang berdasarkan rasa hormat dan empati,” kata Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, dalam sambutannya yang dibacakan Sekda Provinsi Maluku, Sadali Le, di seminar bertema ‘Penguatan Karakter Bangsa untuk Mendukung Asta Cita dalam Semangat Hidup Orang Basudara melalui Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB)’ di Kota Ambon, Kamis, 12 Februari 2026.

Halaman Selanjutnya

Senada dengan itu, Wali Kota Ambon, Bodewin Melkias Wattimena, mengatakan seminar yang diinisiasi Pemprov Maluku dan Institut Leimena adalah panggilan moral jati diri bangsa dan nilai kedamaian yang mengakar kuat dalam hubungan persaudaraan masyarakat Maluku.