Jakarta (ANTARA) – Kementerian Kesehatan Indonesia telah mendistribusikan 80 persen peralatan medis penting ke daerah-daerah terdampak bencana di Sumatra. Hal ini menekankan upaya pemerintah untuk memulihkan layanan kesehatan yang terganggu akibat banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalusia, menyatakan pada Senin bahwa pasokan telah sampai ke rumah sakit dan fasilitas kesehatan primer, termasuk puskesmas.
“Kita harus pastikan operasi penuh segera—artinya rumah sakit bisa melanjutkan semua layanan, termasuk operasi bedah,” ujarnya.
Upaya ini menggabungkan pengiriman baru dengan perbaikan peralatan yang rusak, didukung oleh donasi dari banyak pihak.
Bencana di Sumatra pada akhir 2025 dan awal 2026 merupakan salah satu musibah paling mematikan belakangan ini. Banjir, banjir bandang, dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menewaskan lebih dari 1.190 orang, 143 hilang, dan lebih dari 131.000 mengungsi.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan bahwa pemerintah menargetkan semua fasilitas kesehatan di daerah terdampak beroperasi penuh pada Maret 2026.
Tantangan utama termasuk mengganti ribuan tempat tidur pasien yang hancur oleh lumpur dan memperbaiki ambulans yang tidak bisa dipakai.
Kemenkes telah mendekati perusahaan otomotif untuk bantuan dan membuka kanal donasi untuk mendapatkan alat-alat kritis seperti mesin rontgen.
Selain infrastruktur medis, Kemenkes bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk merenovasi rumah para tenaga kesehatan yang terdampak, memastikan mereka dapat terus melayani masyarakat dengan efektif.
Respons terkoordinasi ini menyoroti komitmen Indonesia yang lebih luas untuk ketangguhan—memulihkan layanan esensial dengan cepat sambil menggerakkan kemitraan untuk menjaga kesehatan publik pasca bencana.
Reporter: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026