Selasa, 10 Maret 2026 – 11:50 WIB
Ketidakstabilan di Teluk Persia, yang dipicu oleh serangan udara Israel dan Amerika Serikat ke Iran sejak 28 Februari, mengacaukan jalur pelayaran dan menggoyang pasar energi global. Bagi kawasan yang bergantung pada impor minyak dan gas, dampak ekonominya langsung terasa. Hal ini menguji keamanan energi, pengendalian inflasi, dan perencanaan jangka panjang.
Jika pertempuran terus berlanjut, hal ini bisa mendorong kenaikan harga listrik dan bahan bakar global, serta mempengaruhi keputusan jangka panjang tentang campuran energi di kawasan. Negara-negara di Asia pun mulai khawatir jika perang ini berkepanjangan.
Gangguan besar pada rute pelayaran dan penerbangan telah memasuki minggu kedua. Ribuan penerbangan dibatalkan, termasuk di pusat ekonomi utama seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi, yang mempengaruhi transportasi penumpang dan kargo di seluruh Asia, Eropa, dan Timur Tengah.
Yang sangat krusial bagi pasokan energi Asia, serangan rudal dan drone telah menyasar fasilitas minyak, kilang, dan tempat penyimpanan di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan negara Teluk lainnya. Ini menyebabkan pengurangan produksi atau penutupan fasilitas penting, seperti kilang minyak utama Saudi Aramco.
Dampak langsungnya, harga minyak melonjak di atas $119 per barel pada Senin, meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global yang lama. Lonjakan ini adalah pertama kalinya harga minyak menembus $100 per barel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Harga minyak sempat turun kembali ke sekitar $110 per barel setelah The Financial Times melaporkan bahwa menteri keuangan G7 akan membahas pelepasan cadangan minyak bersama Badan Energi Internasional.
Di India, pihak berwenang menyatakan harga bahan bakar masih stabil untuk sementara, karena pemerintah mengandalkan sumber pasokan yang beragam dan cadangan strategis. Pejabat India mengatakan negara itu punya cadangan minyak dan stok komersial yang cukup untuk konsumsi sekitar 50 hingga 74 hari, sebagai penyangga jika pasokan terganggu.
Kemudian, China, sebagai importir minyak terbesar dunia, juga mengawasi perkembangan dengan hati-hati. Menurut Atlantic Council, Beijing telah membangun cadangan minyak mentah dan punya produksi minyak domestik yang lebih besar dibandingkan banyak negara Asia Timur lainnya. Ini memberikan perlindungan jika pasokan dari Timur Tengah terhambat.
Lalu, di Australia, pemerintah negeri kanguru itu telah mendesak masyarakat untuk tidak borong bahan bakar secara berlebihan, di tengah laporan bahwa beberapa petani diduga menimbun solar.