Nasib Penerapan MLFF Masih Belum Pasti, Pemerintah Fokus Uji Kelayakan

Minggu, 29 Maret 2026 – 01:00 WIB

Solo, VIVA – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan kalau penerapan sistem Multi Lane Free Flow (MLFF) di Indonesia masih belum bisa dipastikan. Ini karena sistemnya masih dalam tahap uji coba dan belum dinyatakan layak.

Pemerintah sekarang memprioritaskan pengujian teknis dulu sebelum memutuskan untuk implementasi secara luas.

Dody bilang, uji coba awal MLFF yang dilakukan sebelumnya belum memberikan kesimpulan yang jelas tentang keberhasilan sistem itu. “Kemarin kan kita uji coba pertama di Bali, belum ada kesimpulan. Apakah nanti akan sukses atau tidak,” ujarnya, saat bertemu media di Rest Area KM 379 Batang, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu, 28 Maret 2026.

Karena itu, pemerintah memutuskan untuk melakukan uji coba ulang dengan melibatkan lebih banyak pihak biar hasilnya lebih komprehensif. Dia tekankan bahwa proses ini akan melalui beberapa tahap sesuai kontrak yang sudah disepakati.

“Ada beberapa tahapan uji coba yang harus kita kerjakan,” kata Dody.

Menurutnya, fokus utama saat ini bukan mempercepat implementasi, tapi membuktikan apakah sistem MLFF ini benar-benar layak dipakai di Indonesia. “Jadi kita bicara dulu soal tes, apakah sistem ini layak atau tidak dipakai,” tegasnya.

Dia jelaskan bahwa MLFF ini proyek kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) unsolicited, di mana pihak swasta yang menawarkan teknologinya ke pemerintah. Tapi sampai sekarang, kemampuan teknologi itu untuk memenuhi kebutuhan di Indonesia dianggap belum sepenuhnya terbukti.

Dody juga menanggapi klaim beberapa pihak yang bilang sistem MLFF bisa mempercepat transaksi sampai cuma butuh waktu sekitar 20 detik. Dia nilai klaim itu belum bisa jadi acuan tanpa ada hasil uji coba yang valid.

MEMBACA  1,3 Juta Anggota Militer Aktif Terancam Tak Terima Gaji Imbas Kebuntuan Pemerintah

Lebih lanjut, dia tekankan bahwa kondisi di Indonesia beda dengan negara lain yang udah pakai teknologi serupa. Faktor cuaca, gangguan sinyal, sama kondisi lalu lintas jadi tantangan sendiri untuk penerapan sistem teknologi tinggi kayak MLFF.

“Mungkin di negara sana bisa. Tapi kan Indonesia beda, ada cuaca, ada macam-macam,” ujarnya.

Meski begitu, Dody akui bahwa kebutuhan untuk sistem transaksi tol tanpa henti memang semakin mendesak, apalagi untuk mengurangi antrian di gerbang tol saat masa padat kayak mudik atau libur panjang. Tapi, dia tegaskan bahwa implementasinya tetap harus berdasarkan kesiapan teknologi dan hasil uji coba yang cukup.

Tinggalkan komentar