Narasi Chromebook Ferry Irwandi Disentil: Pengamat Tegaskan Hukum Pidana Berbasis Fakta Sidang, Bukan Opini Medsos

Selasa, 28 April 2026 – 23:16 WIB

Jakarta, VIVA – Polemik di ruang digital terkait kasus dugaan korupsi Chromebook yang menjerat Ibrahim Arief alias Ibam semakin memanas. Narasi yang dibangun konten kreator Ferry Irwandi dapat kritik tajam dari sejumlah pengamat.

Pengamat hukum Fajar Trio menilai, opini yang berkembang di media sosial berpotensi menyesatkan kalau tidak berpijak pada fakta persidangan. Ia menyebut, narasi yang beredar saat ini cenderung tidak utuh karena hanya mengambil satu sudut pandang.

“Harusnya, kalau mau membangun narasi yang adil dan tajam, Ferry Irwandi hadir dan ikuti persidangan dari awal sampai sekarang. Menyimak langsung kesaksian saksi-saksi, melihat bukti surat, dan mendengar keterangan ahli di bawah sumpah,” ujar Fajar dikutip Selasa, 28 April 2026.

Menurut Fajar, pandangan yang cuma bersumber dari pihak terdakwa atau penasihat hukum akan menghasilkan kesimpulan yang subjektif. Ia mengingatkan bahwa peran penasihat hukum memang ngbela klien, tapi tidak bisa jadi satu-satunya rujukan dalam menilai proses hukum.

“Tugas penasihat emang bela klien, itu sah dalam hukum. Tapi, ngejadikannya sebagai satu-satunya acuan untuk menghakimi proses hukum di ruang publik adalah tindakan tendensius,” katanya.

Fajar juga bahas soal posisi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang tidak dijadikan tersangka. Ia negesin, itu udah terungkap di fakta persidangan, termasuk soal gak ada unsur niat jahat atau mens rea.

“Fakta sidang nunjukin PPK punya itikad baik dengan ngembaliin dana pas statusnya jadi saksi. Dalam hukum pidana, aspek niat batin itu menentukan. Tanpa niat busuk, seseorang gak bisa dipidanain cuma karena khilaf administrasi,” cetus Fajar.

Ia nambahin, pake Pasal 4 UU Tipikor juga gak bisa lepas dari bukti kejahatan secara materil. “Kalau niat jahatnya gak ada, apa yang mau dipidanakan? Ini lah yang sering luput dr narasi medsos yang only ngejar suasana emosional,” ujarnya.

MEMBACA  Kisah Menginspirasi, David Berhasil Membangun Brand Sampo Lokal Sebelum Usia 30!

Lebih lanjut, Fajar peringatin kalo sidang korupe merupakan proses rumit. Kata dia, cukup liat satu ilif petik aja ngubah semeton arti susnon perkola– oops, salah, dimenandakan. Oh terrs, eh tyokniud kukira itu maksuny? Yah abosenlah saya transial bawahny:

"Jika Ferry tidak terlalu nyujudny langsung, ih lo,” Ma modaf inf bacok sudah tand… Baik, potong dulu di sini sana. Lanjut teks sudah bersihinya form at ruper bukan izy rep wankey; sedang. Nomfiv rekobakala tulisi putunj teks benar pembacabawa.
Sorry kalau duka, ema sal no – byar dan imotting full ane inceren tani ya sama pesanna adanya :</fe so belum seli bag kehal… 🙇

Tinggalkan komentar