Jakarta (ANTARA) – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk bidang Ekonomi, Bisnis dan Industri Halal, Muhadjir Effendy, menyatakan bahwa perbedaan dalam penentuan 1 Syawal untuk Idul Fitri 1447 Hijriah merupakan kesempatan berharga untuk menghormati perbedaan.
"Setiap pihak punya alasannya masing-masing, dan itu sama-sama kuat. Hal ini sangat mungkin terjadi," ujarnya usai menghadiri shalat Idul Fitri di Jakarta pada Jumat.
Ia lalu mengutip khutbah yang disampaikan Muhammad Quraish Shihab di Istana Negara, yang menyebutkan bahwa ketika seseorang menyaksikan bulan Ramadan, maka ia harus berpuasa.
Effendy menjelaskan bahwa "menyaksikan" dalam bahasa Arab disebut shahida, yang bisa juga berarti menghitung berdasarkan ilmu pengetahuan.
"Karena akal sehat kita mengatakan tidak ada Tuhan selain Allah, kita mengucapkan syahadat. Prinsipnya sama disini, ini masalah perbedaan metodologi yang menurut saya tidak perlu terlalu ditekankan," tambahnya.
Dia menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah menganut kalender Hijriah tunggal global, di mana melihat bulan baru sekarang diukur secara global, bukan hanya di wilayah tertentu.
Dia juga mencatat bahwa tahun ini, bulan baru kebetulan terlihat pertama kali di Alaska, dan penglihatan seperti itu dianggap sah di seluruh dunia.
Menurut Effendy, menghormati perbedaan ini sejalan dengan khutbah Idul Fitri yang disampaikan di lokasi, yang menekankan pentingnya menjaga silaturahmi dengan sesama.
Fadhil Mahdi, Kepala Hubungan Luar Negeri DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), menambahkan bahwa perbedaan dalam perayaan Idul Fitri bukanlah hal yang terisolasi.
"Selain itu, Muhammadiyah baru-baru ini telah merilis kalender Hijriah tunggal global. Ini adalah cara kami untuk berbagi metodologi ini dengan semua umat Islam, dari masyarakat biasa hingga mereka yang berwenang," catatnya.
Dia memberikan contoh bagaimana kalender ini dapat digunakan bersama kalender Masyayikh, di mana tanggalnya tetap sama meskipun hanya berbeda beberapa jam.
Dia berharap bahwa umat Islam akan mengadopsi pendekatan ini sehingga kalender Hijriah yang standar dapat diterapkan untuk semua bulan, termasuk Ramadan, Syawal, dan Idul Adha.
Berita terkait: Indonesia sets Eid al-Fitr 2026 for March 21
Berita terkait: Homecoming flow runs smoothly three days ahead of Eid: Minister
Penerjemah: Mecca Yumna, Resinta Sulistiyandari
Editor: Arie Novarina
Hak Cipta © ANTARA 2026